15 April 2010

Yang tidak Bisa Diucapkan Ayah ...

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya.....
Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya..
Lalu bagaimana dengan Papa?

Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?

Mungkin dulu sewaktu kamu kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang Papa bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?

Pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil......
Papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda.
Dan setelah Papa mengganggapmu bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu...
Kemudian Mama bilang : "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya" ,
Mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka....

Tapi sadarkah kamu?
Bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Mama menatapmu iba.

Tetapi Papa akan mengatakan dengan tegas : "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang"
Tahukah kamu, Papa melakukan itu karena Papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?

Saat kamu sakit pilek, Papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata : "Sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!".
Berbeda dengan Mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut.
Ketahuilah, saat itu Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja.....
Kamu mulai menuntut pada Papa untuk dapat izin keluar malam, dan Papa bersikap tegas dan mengatakan: "Tidak boleh!".
Tahukah kamu, bahwa Papa melakukan itu untuk menjagamu?
Karena bagi Papa, kamu adalah sesuatu yang sangat - sangat luar biasa berharga..
Setelah itu kamu marah pada Papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu...
Dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah Mama.....
Tahukah kamu, bahwa saat itu Papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, Bahwa Papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, Tapi lagi-lagi dia HARUS menjagamu?

Ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, Papa akan memasang wajah paling cool sedunia.... :')
Papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu..
Sadarkah kamu, kalau hati Papa merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya, dan Papa melonggarkan sedikit peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya.
Maka yang dilakukan Papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir...
Dan setelah perasaan khawatir itu berlarut - larut...
Ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati Papa akan mengeras dan Papa memarahimu.. .

Sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti Papa akan segera datang?
"Bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan Papa"

Setelah lulus SMA, Papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang Dokter atau Insinyur.
Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Papa itu semata - mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti...
Tapi toh Papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan Papa

Ketika kamu menjadi gadis dewasa....
Dan kamu harus pergi kuliah dikota lain...
Papa harus melepasmu di bandara.
Tahukah kamu bahwa badan Papa terasa kaku untuk memelukmu?
Papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini - itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. .
Padahal Papa ingin sekali menangis seperti Mama dan memelukmu erat-erat.
Yang Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata "Jaga dirimu baik-baik ya sayang".
Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT....kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Papa.
Papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan...

Kata-kata yang keluar dari mulut Papa adalah : "Tidak.... Tidak bisa!"
Padahal dalam batin Papa, Ia sangat ingin mengatakan "Iya sayang, nanti Papa belikan untukmu".
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana.
Papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu.
Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat "putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang"

Sampai saat seorang teman Lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Papa untuk mengambilmu darinya.
Papa akan sangat berhati-hati memberikan izin..
Karena Papa tahu.....
Bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya....

Saat Papa melihatmu duduk di Panggung Pelaminan bersama seseorang Lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, Papa pun tersenyum bahagia....
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis?
Papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian Papa berdoa.....
Dalam lirih doanya kepada Tuhan, Papa berkata: "Ya Tuhan tugasku telah selesai dengan baik....
Putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik....
Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu Papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk...
Dengan rambut yang telah dan semakin memutih....
Dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya....
Papa telah menyelesaikan tugasnya....

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita...
Adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat...
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis...
Dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. .
Dan dia adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal..

Saya mendapatkan notes ini dari seorang teman, dan mungkin ada baiknya jika aku kembali membagikannya kepada teman-teman ku yang lain.

Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-teman wanita ku yang cantik, yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa serta ANGGUN, dan juga untuk teman-teman pria ku yang sudah ataupun akan menjadi ayah yang HEBAT !

Yup, banyak hal yang mungkin tidak bisa dikatakan Ayah / Bapak / Romo / Papa / Papi kita... tapi setidaknya kini kita mengerti apa yang tersembunyi dibalik hatinya.




Source: milis e-ketawa; milis ppgt

05 Maret 2010

Googleplex & Demam Android











Nama yang aneh untuk sebuah kantor. Betul, ini bukan kantor biasa. Google menyebutnya sebagai tempat bermain. Ada empat bangunan yang berdiri di tanah seluas 4,7 hektare di Googleplex. Di sini Anda bisa melakukan apa saja. Mau berenang, merenung, atau berendam di bathtub dengan pemandangan akuarium air laut, main perosotan seperti anak TK, semua bisa.

Dua pendiri Google, Larry Page dan Sergey Brin, tahu bisnis tak bisa dimenangi hanya dengan memeras otak sampai dahi berkerut dan wajah bersungut-sungut. Ide-ide brilian justru muncul saat Anda merenung di toilet atau mencoba khusyuk saat salat atau ke gereja.

Google juga tahu dunia ini terlalu banyak cerita sedih dan tak sempurna. Itulah sebabnya dia menciptakan ruangan-ruangan yang bisa membangkitkan selera kreatif.

Googleplex adalah komposisi sempurna, tempat bermain, tempat bersenang-senang, bekerja, sekaligus menghasilkan karya yang bisa menghantam rival-rivalnya. Bandingkan dengan kantor Microsoft yang superserius. Di Google, para petinggi kerap kali rapat bukan di ruang-ruang tertutup, melainkan di tenda-tenda kecil atau di igloo. Yang terakhir itu adalah rumah ala orang kutub. Anda bisa melihat betapa menakjubkannya ruang-ruang kantor di Google di sini (http://www.time.com/time/photoessays/2006/inside_google/)

Hasilnya, siapa sangka iklan baris Google mengalahkan iklan banner Yahoo! Mesin pencarinya juga menjadi jantung utama pencarian di Internet, melibas mesin pencari Yahoo!

Kini Google bahkan merambah bisnis yang tak pernah terbayangkan, dari jualan koneksi Internet seperti Telkom Speedy sampai terjun ke bisnis listrik seperti PLN.

Di industri peranti lunak, Google diam-diam juga menggerogoti pasar Microsoft. Mereka menyodorkan pengolah dokumen gratis penantang Microsoft Word, Excel, dan PowerPoint. Otak-otak brilian Google sudah menyiapkan sistem operasi Chrome, penantang Windows 7. Jangan heran bila Juni tahun lalu laba Microsoft–untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir–turun.

Larry Page dan Sergey Brin memang tak pernah kehilangan sihirnya untuk menguasai dunia. Tahun ini, mereka punya kejutan lagi: terjun ke bisnis ponsel dan software ponsel. Mereka meluncurkan sistem operasi khusus ponsel, Android. Kejutan lainnya, ada 20 jenis ponsel berbasis Android–dari berbagai merek, seperti HTC, Samsung, LG, Motorola–yang akan meramaikan pasar.

Android adalah ancaman serius bagi industri ponsel. Selama bertahun-tahun bisnis ini dikuasai Nokia dan Microsoft. Nokia punya software Symbian, adapun Microsoft punya Windows Mobile (yang sekarang bernama Windows Phone 7).

Nokia, menurut data perusahaan riset Gartner, menguasai sekitar 46 persen, sedangkan Windows memegang “kue pasar” 8,7 persen. Adapun BlackBerry dan Apple masing-masing menguasai 19,9 persen dan 14,4 persen dari total pasar.

Google yakin, dengan Android, mereka bisa mencuri pasar ponsel ini. Resepnya sederhana: gusur software yang paling mahal. Google akan membagikan Android ini gratis. Vendor seperti Samsung, LG, atau Motorola boleh memakainya tanpa bayar untuk Android standar.

Siapa yang tergoda tawaran aduhai ini? Motorola. Jika ingin menggunakan software Windows Phone, mereka harus membayar lisensi US$ 15 sampai US$ 25 (sekitar Rp 140 ribu sampai Rp 230 ribu) per ponsel. Bayangkan, jika mereka memproduksi sejuta ponsel, berarti Rp 140 miliar lebih disetor ke kantong Microsoft.

Kini semua melirik ke Android. “Android akan menjadi lebih hebat pada lima tahun ke depan,” kata Sehat Sutardja, Chief Executive Officer Marvell Technology Group, sebuah produsen cip ponsel di Amerika. “Android kelak akan dipakai di alat-alat rumah tangga, seperti mesin cuci dan TV.”

Semua ide cemerlang itu lahir dari “kenakalan-kenakalan” di Googleplex.
2010 burhan Digital

24 Februari 2010

Berapa Gaji Khalifah Islam?

Ketika diangkat sebagai khalifah, tepat sehari sesudahnya Abu Bakar r.a.terlihat berangkat ke pasar dengan barang dagangannya. Umar kebetulan bertemu dengannya di jalan dan mengingatkan bahwa di tangan Abu Bakarsekarang terpikul beban kenegaraan yang berat. "Mengapa kau masih saja pergi ke pasar untuk mengelola bisnis? Sedangkan negara mempunyai begitu banyak permasalahan yang harus dipecahkan?" sentil Umar.

Mendengar itu, Abu Bakar tersenyum. "Untuk mempertahankan hidup keluarga," ujarnya singkat. "maka aku harus bekerja.

"Kejadian itu membuat Umar berpikir keras. Maka ia pun, bersama sahabat yanglain berkonsultasi dan menghitung pengeluaran rumah tangga khalifah sehari-hari. Tak lama, mereka menetapkan gaji tahunan 2.500 dirham untuk Abu Bakar, dan kemudian secara bertahap, belakangan ditingkatkan menjadi 500 dirham sebulan. Jika dikonversikan pada rupiah, maka gaji Khalifah Abu Bakarhanya sebesar Rp. 72 juta dalam setahun, atau sekitar Rp 6 juta dalam sebulan. Sekadar informasi, nilai dirham tidak pernah berubah.

Meskipun gaji khalifah sebesar itu, Abu Bakar tidak pernah mengambil seluruhnya gajinya. Pada suatu hari istrinya berkata kepada Abu bakar, "Aku ingin membeli sedikit manisan." Abu Bakar menyahut, "Aku tidak memiliki uang yang cukup untuk membelinya." Istrinya berkata, "Jika engkau ijinkan, aku akan mencoba untuk menghemat uang belanja kita sehari-hari, sehingga aku dapat membeli manisan itu."Abu Bakar menyetujuinya.

Maka mulai saat itu istri Abu Bakar menabung sedikit demi sedikit, menyisihkan uang belanja mereka setiap hari. Beberapa hari kemudian uang itupun terkumpul untuk membeli makanan yang diinginkan oleh istrinya. Setelah uang itu terkumpul, istrinya menyerahkan uang itu kepada suaminya untuk dibelikan bahan makanan tersebut.


Namun Abu Bakar berkata, "Nampaknya dari pengalaman ini, ternyata uang tunjangan yang kita peroleh dari Baitul Mal itu melebihi keperluan kita." Lalu Abu bakar mengembalikan lagi uang yang sudah dikumpulkan oleh istrinyaitu ke Baitul Mal. Dan sejak hari itu, uang tunjangan beliau telah dikurangi sejumlah uang yang dapat dihemat oleh istrinya.


Pada saat wafatnya, Abu Bakar hanya mempunyai sebuah sprei tua dan seekor unta, yang merupakan harta negara. Ini pun dikembalikannya kepada penggantinya, Umar bin Khattab. Umar pernah mengatakan, "Aku selalu saja tidak pernah bisa mengalahkan Abu Bakar dalam beramal shaleh."(sa/berbagaisumber)


Eramuslim, Rabu, 20/01/2010 06:11 WIB

15 Februari 2010

Insan Mulia, Pandanglah Hamba ...

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang haris ungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. Jika kalian kasihan kepadaku," kata nenek itu, "Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya."

Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yangmendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

"Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai," tuturnya. "Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya."

Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura, D. Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dariitu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Alloh. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah saw?


Di kutip dari buku :

"Rindu Rosul - Meraih cinta ilahi melalui syafaat Nabi Saw"
hal 31-33
Penulis: Jalaluddin Rakhmat,
Penerbit: Rosda Bandung, September 2001.

08 Januari 2010

Buang Sial ke Singapura

Alkisah, bersepakatlah pengusaha yang muda tiga sekawan untuk ber-weekand ke singapura. Yang satu, Tigor, berasal dari Batak, lainnya, Sutrimo, asli Jawa, lainnya lagi, Abdul, dari Madura.

Sabtu sore ngumpul di Cengkareng, langsung bareng ke Singapura, dan paginya, atau setidaknya siang harinya, balik lagi ke Jakarta. Soal apa alasan kepergian mereka kepada istri masing-masing, Ente pasti cukup profesional untuk mengarang sendiri. Terserah saja apa, tergantung bagaimana Ente sendiri biasanya mengelabui istri Ente.

Memang ruginya orang punya istri adalah bahwa ia punya kemungkinan untuk menyeleweng. Kalau bujangan, pasti bersih dari penyelewengan. Kalau Ente seorang suami, begitu lirikan Ente ke seorang cewek mengandung sedikit saja virus napsu, berarti Ente menyeleweng dari istri dan salah-salah bisa dituduh berzina mata oleh sebuah sekte agama.

Tapi kalau Ente bujangan, biar melirik sampai melorok, biar melilit sampai melotot: kan tidak menyeleweng namanya. Jadi, lelaki yang kawin, ia bukan saja sendang menggantikan kemerdekaan dengan penjara, tapi juga memperangkap diri dalam kans penyelewengan. Kok mau-maunya!

Tetapi apakah tiga pengusaha muda kita ini sendang merancang penyelewengan di Singapura? Wallahu' alam. Tanyakan saja langusng kepada Tuhan yang tahu persis apa isi hati mereka, sebab kalau tiga suami muda itu yang Ente tanyai, pasti tidak ngaku.

Alhasil sampailah mereka di Singapura. Singkat kata, mereka langsung cari hotel bintang tujuh. Tapi rupanya semua orang se-Asean ini sedang mengincar Singapura untuk bermalam Minggu. Sehingga di mana-mana hotel penuh. Tiga pengusaha muda kita ini hanya mendapatkan satu kamar, itu pun tingkat 63. Sudah mepet sama lapisan ozon. Dan gampang diserempet oleh lalu-lalang makhluk angkasa luar."Tapi kenapa susah? Untung masih dapat kamar. Toh kita tidak ke sini untuk tidur. Toh semalaman nanti kita akan cari hiburan di luar!" kata Sutrimo, mengeluarkan kebiasaan etnisnya untuk selalu merasa untung dalam situasi macam apapun.

"Ah, kau ini!" sahut Tigor.

"Tingkat 63! Jauhnya itu! Lebih jauh dibanding Jakarta-Singapura, bah!"

"Lho, masih untung kita dapat kamar!"

"Masih untung! Masih untung! Kalau ban mobil kau meledak, kau bilang 'Masih untung bukan as-nya yang patah!' Kalau as mobil kau patah, Kau bilang 'Masih untung bukan tulang punggung kita yang patah!"

"Lha maunya kamu dapat kamar di tingkat berapa?" Tiba-tiba Abdul nyeletuk.

"Ya 3 kek, 4 kek, atau 5 okelah!" jawab Tigor.

"Kalau begitu kita pindahkan saja kamar kita ke tingkat yang kamu senangi."

"Sialan kau!"

"Atau tingkat 63 ini kita sepakati saja sebagai tingkat 3."

Tapi memang tak ada pilihan lain. Dan karena itu kita singkat saja cerita ini: mereka OK di tingkat 63, menaruh koper kecil mereka masing-masing, pesan makanan kecil, dan telepon sana-sini untuk berorientasi menentukan ke klab malam mana yang paling manis untuk bermalam Minggu.

Kesepakatan dicapai. Usai makan mereka langsung turun ke lobi, ambil taksi, berangkat cari restoran yang harganya jangan sampai murah, sambil nunggu waktu sebelum ke klab malam. Kemudian segala sesuatunya ditumpahkan. Keringat diperas. Gejolak-gejolak kelelakian dihempaskan. Minum-minum. Ajojing. Ganti Hostess beberapa kali. Pokoknya segala kemungkinan kehidupan malam di tempat itu mereka habiskan dan tuntaskan. Sehingga ketika dinihari tiba, loyo beratlah mereka. Mereka balik ke hotel dengan badan Hollyfield di ronde 10 dan 11 pertarungannya dengan Bowe. Dan tatkala tiba di hotel, badan mereka menjadi lebih parah bagaikan tubuh Razor Ruddock dihancurkan oleh Lennox Lewwis.

"Lift-nya kebetulan macet," kata Sutrimo kalem.

"Mbahmu!" sahut Tigor menjawa-jawakan diri.

"Ya, jalan kaki. 'Kit-sedikit nanti 'lak sampai!" sambung Abdul.

Mereka terduduk di dekat lift. Runding. Mereka berpendapat bahwa harus diciptakan situasi bersama agar perjalanan menuju tingkat 63 tidak terlalu melelahkan. Akhirnya sepakat: setiap orang harus bercerita, mendongeng atau apa saja, sepanjang 21 tingkat. Jadi tiap orang pas 63 tingkat.

Naiklah mereka. Lemes bukan main. Kaki bagai tanpa tulang dan tidak berotot. Langkah amat berat. Tangan mereka terus berpegangan di tanganan tangga atau tembok.

Pertama giliran Sutrimo berkisah tentang pertandingan sepakbola antara kesebelasan Keraton Solo melawan Yogya. Setiap kali striker Solo berhasil membawa bola ke depan kiper Yogya, sang priyayi Ngayogja ini justru minggir, membungkuk-kan badan, "Monggo Mas, dimasukkan saja bolanya, ndak usah pakewuh!"

Si striker Solo berhenti dan menjawab: "Ah, nanti saja, gampang. Kami tidak tergesa-gesa, kok."

Kejadian yang sama berlangsung ketika striker Yogya berhadapan dengan kiper Solo. Monggo-monggoan dan nanti saja-nanti saja. Akhirnya pertandingan berakhir draw, sehingga diselenggarakan sarasehan di tengah lapangan, dihadiri oleh ofisial kedua kesebelasan, seluruh pengurus PSSI yang hadir, plus pak RW, Danramil, Penatar P4, dan Ketua Klompencapir. Keputusannya: Juara bersama!

Sejumlah kisah yang lain dituturkan oleh Sutrimo. Kemudian memasuki tingkat 22, giliran Tigor bercerita. Misalnya tentang pidato tokoh masyarakat Batak dalam suatu upacara sangat resmi memperingati wafatnya Sisingamangaraja sang pahlawan nasional.

"Hari ini," katanya dengan penuh kekhusukan,

"Kita memperingati hari wafatnya pahlawan kita Sisingamangaraja yang dibunuh oleh Belanda sialan itu...!"

"Wah, payah dia itu!" komentar Sutrimo, "Wong pidato resmi kok pakai ngumpat segala!"

Demikianlah perjalanan pendakian mereka ke tingkat 63 menjadi tak terlalu melelahkan. Letih sih, letih, tapi dengan melempar-lemparkan konsentrasi ke macam-macam hal yang lucu-lucu, kesadaran bahwa mereka sedang letih menjadi terkurangi.

Apalagi ketika di atas tingkat 43, Abdul mengisahkan tentang pengendara motor di Sampang yang marah-marah kepada polisi yang menilangnya di jalan karena melanggar dan ternyata tidak punya SIM.Memang dia menyodorkan SIM."Tapi ini bukan SIM saudara! Nama dan fotonya lain!" kata polisi.

Naik pitamlah pengendara motor itu: "Lho Bapak ini kok neh-aneh! Lha wong yang saya pinjami SIM saja 'dak marah kok malah Bapak yang marah!"Asyiklah mereka mendengarkan kisah-kisah Abdul. Tapi Abdul ini sendiri malah keasyikan. Mereka sudah sampai di tingkat 63, sudah berdiri di depan pintu kamar, Abdul tidak juga berhenti bercerita. Terus saja nerocos."Sudah, bah! Bukalah pintu! Mau tidur aku!" protes Tigor tak sabar."Nanti dulu," jawab Abdul, "ceritaku belum selesai..." "Ya, cepat selesaikan saja sekarang," kata Sutrimo.

"Begini..." kata Abdul pelan, "akhir cerita saya ini sungguh-sungguh Happy Ending...""Bagaimana itu!" desak Tigor.

Kunci kamar kita tertinggal di mobil..."


(Emha Ainun Nadjib/Folklore Madura (Demokrasi Tolol Saridin)/Progress/PadhangmBulanNetDok)

30 Desember 2009

Orkestra Kecelakaan

Dulu orang berkata, alangkah kasihannya anak muda itu. Kuliahnya tak tamat. Kerja luntang-lantung. Hidup pun dia harus berpindah-pindah dari Nebraska, Florida, dan Texas, California, untuk mencari kerja. “Setiap musim panas saya harus mengairi tanaman,” kata Evan Williams. Itu 10 tahun sebelum namanya berkibar sebagai pendiri Blogger.com dan Twitter.com.

Sekarang 55 juta pengguna Twitter dan puluhan juta pengguna Blogger akan berterima kasih kepada anak muda ini. Twitter dan Blogger telah menjadi denyut rutinitas sehari-hari. Siapa sangka dia begitu berpengaruh. Perusahaan-perusahaan hebat, seperti IBM, Dell, dan Jetblue, pun memakai Twitter–peranti pengirim pesan yang berisi 140 karakter. Petenis kondang Serena Williams, musisi John Mayer, sampai sutradara Joko Anwar serta pendeta-pendeta di Amerika banyak yang kecanduan Twitter. Bahkan pemilu di Iran pun bisa ditekan dunia internasional berkat Twitter–peranti yang tak bisa diblok pemerintah Iran.

Siapa sangka temuan ini lahir dari pemuda yang mengaku hidupnya berantakan. Sepuluh tahun hidupnya adalah sepuluh tahun yang sia-sia. Pada 1994, selepas SMA dia hidup bergantung pada kebodohan orang terhadap Internet. Saat Internet mulai tumbuh–apakah Anda sudah kenal Internet saat itu?–Williams memproduksi CD-ROM. Isinya video tentang cara menggunakan Internet. Dia juga menyewakan server untuk web hosting.

Tapi William bukanlah Soicihiro Honda, kapitalis Jepang pintar membuat bisnis mobil Honda. Williams merekrut beberapa temannya dan bermimpi menjadi konglomerat. Tapi ternyata temannya tak pintar mencari uang. Segudang “penyakit” pengusaha amatir melekat padanya. “Saya tak bisa bernegosiasi, kehilangan fokus, dan tak punya disiplin,” kata Williams. Bisnisnya amburadul. Sampai-sampai dia punya utang pajak dan membuat karyawannya marah.

“Hidup saya adalah rangkaian orkestra kecelakaan,” ujar Williams. “Saya selalu mengidap halusinasi optimisme yang akut.” Pernah, dia sampai melek semalam suntuk di perusahaan pertamanya. Tapi esoknya dia kebingungan mencari recehan yang tersisa sekadar untuk sarapan.

Sejarah mulai berpihak kepadanya setelah akhirnya dia bekerja di O’Reilly Media pada 1997. Ia mulai belajar teknik membuat web. Penyakit halusinasi optimistis menghinggapinya lagi. Dia melahirkan Pyra Labs dengan temannya, Meg Hourihan, membuat proyek Blogger, sebuah teknik mudah untuk membuat web. Enam tahun kemudian, situs itu dibeli Google dan dia bekerja selama dua tahun untuk Goliath Internet itu.

Sejak itu hidup William senikmat orkestra. Dia lalu mengajak Jack Dorsey–insinyur di perusahaan barunya, Odeo. Mereka mendirikan Twitter. Dorsey sejak dulu memang terobsesi pada status. Tapi bukan status sosial. Dia terobsesi melahirkan peranti yang memungkinkan orang membaca status komputer. Contohnya, “Habis dimarahi bos”, atau “Rindu pada tom yam gung”.

Twitter tiba-tiba saja menjadi demam baru di Amerika Serikat, menyusul kesuksesan Facebook. Sekarang pengguna Twitter sudah 55 juta orang. Bahkan, saat Barack Obama hendak dilantik pun, dia–atau mungkin orang suruhan dia–sempat menulis status di Twitternya. “Terima kasih telah mempercayakan amanah kepada saya.” Para pakar Internet juga memprediksi, “Twitter adalah koran masa depan, karena status pengguna adalah berita.”

Kini anak luntang-lantung itu telah memetik sukses. Meski belum untung, Twitter telah meraup US$ 55 juta atau Rp 0,5 triliun dari investor. “Ibu saya sekarang tak khawatir lagi, terutama sejak saya menikah 1,5 tahun lalu.”

evan williams, Twitter
10 Dec 2009 burhan Digital
http://blog.tempointeraktif.com/digital/orkestra-kecelakaan/#more-911

18 Desember 2009

Hijrahkan Kami Ya Gusti

Suatu malam sekitar tahun 622 Masehi. Sekelompok pemuda mengepung sebuah rumah. Golok terhunus berada di genggaman masing-masing. Tekad mereka bulat. Mereka akan menghabisi lelaki berusia lebih setengah abad itu. Tidak ada negosiasi. Tidak ada kompromi. "Dosa" lelaki itu sudah sangat jelas: yakni membongkar kemapanan kehidupan setempat.

Lelaki itu menggelindingkan perubahan. Ia mengingatkan masyarakatnya untuk tidak mengagungkan yang tidak layak diagungkan. Ia mengajak untuk hanya mengagungkan satu-satunya yang layak diagungkan. Lelaki itu menggulirkan transformasi sosial yang mengguncang kemapanan masyarakatnya. Karena itu, ia dipandang pantas untuk mati.

Mereka boleh berencana. Yang di Atas yang Maha Perencana. Sang lelaki itu berhasil menyelinap dari rumahnya. Dua hari ia berlindung di celah batu sebuah bukit, sebelum kemudian tersaruk mengendarai unta melintasi gurun menuju kehidupan baru. Dalam perjalanan itu, kematian terus membayang-bayanginya. Masyarakatnya, juga alam gurun, selalu siap mengeksekusinya. Tapi, ia sangat yakin langkahnya benar. Lelaki itu terus melangkah. Ia telah membayar mahal sikapnya dengan mengorbankan kemapanannya. Ia tidak mau berhenti hingga menginjak tanah baru tempat keyakinannya dapat disemaikan.

Di rumah anak yatim, di tanah baru, unta pembawa lelaki itu berhenti. Di rumah itulah ia kemudian tinggal. Di situlah ia tunjukkan perangainya yang luar biasa. Ia menyantuni para yatim dan kaum miskin. Ia ajak para sahabatnya untuk menengok para janda tanpa keluarga. Ia selalu berbicara santun pada istri. Ia maafkan para musuh yang telah menginginkan kematiannya. Ia ingatkan bahwa semua manusia adalah sama. Tidak ada yang berbeda. Satu-satunya perbedaan hanyalah di hadapan Sang Pencipta, yakni perbedaan dalam takwa. Ia ajak manusia menjadi manusia sempurna: manusia tak tidak terjajah oleh apa pun lantaran hanya mengagungkan Sang Gusti. Dengan itulah lelaki tersebut membawa dunia pada peradaban baru.

Siapa pun yang sungguh mencermati perjalanan lelaki itu akan mengakui betapa dahsyat langkah yang telah ditempuhnya. Yang dilakukannya selalu langkah sederhana. Namun, langkah-langkah sederhana itulah yang mengubah peradaban dunia. Langkah-langkah sederhana itulah yang membalik "hari gelap" menjadi "hari benderang". Momentum pembalikan itu adalah hari-hari saat ia lolos dari kepungan para penjagal untuk menaklukkan keganasan gurun. Momentum itulah 'Hijrah' yang oleh Umar --sahabat lelaki itu-- dipilih sebagai titik nol penanggalan umat.

Sejak itu, dari tahun ke tahun, kita selalu dilewatkan pada momentum penting Hijriyah. Dari tahun ke tahun kita bertemu dengan Tahun Baru Hijriyah. Persoalannya: apakah kita memanfaatkan momentum itu buat menghijrahkan diri dari gelap kemapanan menuju kehidupan yang lebih benderang? Ataukah kita hanya akan melewatinya sebagaimana melewati hari-hari lainnya.

Gelap tak pernah lelah membayangi kita. Gelap selalu menawarkan 'kenyamanan' untuk mapan di dalamnya. Itulah comfort-zone yang akan terus menjebak kita. Gelap membuat kita lebih suka menyalahkan lingkungan dan menolak berhijrah buat menyikapi keadaan kita sendiri. Kita acap merasa diri paling sengsara, sedangkan tubuh kita belum pernah berbekas daun kurma yang menjadi alas tidur, perut kita belum pernah harus diganjal batu untuk menahan lapar seperti lelaki itu. Kita gampang marah saat direndahkan orang lain, padahal kita tak pernah ditimpuki cemooh, batu, maupun kotoran binatang seperti lelaki itu.

Mungkin kita malah bersenang-senang dalam gelimang kekayaan hasil korupsi, sedangkan lelaki dari keluarga terhormat dan sempat kaya raya itu harus menikmati rumput-rumput kering akibat pemboikotan ekonomi selama tiga tahun lantaran keyakinannya. Toh, pada akhirnya sang lelaki itulah yang menjadi sang pemenang. Lelaki itulah yang menjadi manusia yang paling mulia. Lelaki itulah Rasulullah SAW.

Di hari baru, tidakkah berniat untuk mengisik comfort-zone kemapanan sendiri buat menjalani hari-hari yang lebih menantang seperti telah dilakoni Sang Nabi. Tidakkah kita berkata: "Hijrahkan kami ya Gusti, sebagaimana Kau telah menghijrahkan manusia terkasih-Mu itu agar kami meraih kehidupan diri, keluarga, masyarakat, dan bangsa yang terang benderang."

Oleh : Zaim Uchrowi
<"http://www.republika.co.id/">