13 Februari 2009

Bersendiri

Suatu malam, dalam dialog imajinernya, seorang murid menyatakan kepada gurunya bahwa ia baru saja sampai pada titik esensial femininitasnya. Titik itu didapatnya setelah serangkaian dialog yang dilakukannya, dengan pepohonan, jalanan, dan akhirnya dinding-dinding di dalam hatinya sendiri. Bukan, ia bukan tidak punya kawan. Ia sebetulnya memiliki banyak teman dan saudara, yang selalu siap menawarkan jasa yang murni berdasarkan hubungan yang tulus, atau paling tidak, hubungan saling menguntungkan, yang selama ini telah terbangun. Tetapi, yang tidak dimilikinya hanya satu, pasangan hati.

Ketika itu, dalam sebuah perjalanan, ia juga telah menemukan sebuah masjid yang teguh, teduh, dan begitu menarik untuk pesujudan kejerian hati, tetapi ia kemudian tersadar bahwa masjid itu terlalu suci baginya. Ia sedang datang bulan. Dan, ditemukannya dirinya terhenyak di tepi jalan yang kosong, dengan darah yang keluar dari dinding-dinding hatinya yang berguncang, yang pelan tapi pasti, rata dengan tanah. Takut menghujat Tuhan, sempat juga ia sampai pada puncak kemarahan, yang berbalik dalam sepersekian detik menjadi permohonan ampun yang mendalam, bagi keteguhan iman yang kemudian disadarinya ternyata telah runyam.

Ia memang perempuan. Luar dalam. Sulitnya, ia tidak punya lagi cukup keberanian dan tenaga untuk menolak kenyataan. Beginilah titik nadir femininitas perempuan itu bisa dijabarkan dengan serangkaian kenyataan internal yang paradoksal: ia ingin tertawa tetapi hatinya pedih. Ia ingin menyelesaikan kepedihannya tetapi ia tidak ingin kepedihannya memedihkan orang lain. Ia ingin berdialog, tetapi yang bisa menjawabnya hanya air yang keluar dari matanya sendiri. Ia ingin dikuatkan oleh Tuhan, tetapi ia pikir kesucian menolaknya dan ia menemukan diri menjadi lemah di bawah lemah.

Dan dialog itu pun terjadi.

"Jika saya tertawa, saya tahu itu adalah pemberian bagi lingkungan, tetapi juga kebohongan bagi kenyataan internal saya. Sungguh ingin saya temukan orang tempat saya bisa mencurahkan kejerian hati saya dengan jujur. Anehnya, sapaan-sapaan simpatik yang saya terima membentur dinding hati. Sebaliknya, hati saya merindukan dialog yang ternyata hanya monolog. Keriuhan internal ini membuat saya capai. Jadi, bagaimana, ya Mursyid?"

"Bersendiri. Bukan menyendiri, tetapi bersendiri," tegas gurunya.
"Wakilkan seluruh derita kepada Tuhan. Serahkan kepada-Nya. Ketika tidak ada lagi dinding yang kuat untuk bersandar, Tuhan itu cukup." Jadi kesimpulannya, ia tidak boleh dan memang tidak mungkin lagi berkeinginan?

Bersendiri, menurut An-Nifari yang dibahasakan kembali oleh Muhammad Zuhri, adalah kenyataan yang berbeda dengan menyendiri, karena bersendiri adalah kenyataan internal yang ditemukan. Ketika itu, kata-kata tidak bisa lagi memecahkan apa pun. Air mata apalagi, yang menjadi kering bersamaan dengan habisnya tenaga untuk menangis.

Ketidakberdayaan perempuan ini adalah satu kenyataan saja sebetulnya. Hal macam begini bisa saja dialami oleh setiap orang yang ditimpa musibah; ditinggal mati orang yang dicintai, bercerai, jauh dari keluarga maupun sahabat, kehilangan pekerjaan andalan, menderita sakit berat, atau dipojokkan oleh situasi ekonomi politik.

Ketika itu, hati memang minta diistirahatkan dalam pelukan keabadian, yakni Allah sendiri. Biarkan Allah saja yang menjadi kekuatan, menjadi "sisi maskulin" yang menggenapkan.

Betulkah? Saya tidak tahu. Tetapi, jika Anda ingin menemukannya, sungguh Anda tidak sendirian.

sumber Miranda Risang Ayu (Rubrik Resonansi Harian Republika)

Surat Terbuka Untuk Anakku

Izinkan kali ini saya menulis surat tidak kepada presiden, calon presiden atau anggota parlemen, tetapi kepada salah satu penguasa hati saya saja, yakni: anak saya. Juga, bagi anak-anak lain, dan semoga juga Anda dan diri saya sendiri, yang selalu merindukan ketulusan kanak-kanak agar selalu bersemayam di dasar hati.

Beberapa waktu yang lalu, KH Muchtar Adam baru saja mengingatkan banyak orang tentang sifat kepemimpinan Rasulullah yang mulia. Maka, surat ini tewarnai oleh pelajaran itu.

''Anakku, apakah yang terpikir olehmu ketika kau harus naik sepeda ke sekolah, sementara kawan-kawanmu ada yang bahkan telah punya sepeda motor sendiri?''

''Terima kasih karena kau dengan yakin telah berkilah kepada kawanmu, dan mungkin juga sebetulnya, kepada dirimu sendiri, bahwa biar pun badanmu sudah sebesar orang dewasa, secara jujur, usiamu masih terlalu muda untuk itu.

Jika kaulihat temanmu ada yang diantar oleh mobil pribadi yang mewah, semangati saja mereka untuk belajar juga sebaik mungkin seperti dirimu. Karena fasilitas yang telah mereka dapatkan dari orangtua mereka, bukankah adalah anugerah. Sementara itu, aku setuju denganmu bahwa bersepeda itu sehat.''

''Maafkan aku yang tidak bisa mendapatkan uang terlalu banyak. Tetapi, setiap lembar rupiah yang kudapat, insya Allah, masih semurni semangatmu, dan bukanlah hasil dari kelihaianku menelikung hak orang lain sambil ongkang-ongkang kaki. Doakan agar aku bisa tetap seperti itu. Aku khawatir tak sengaja terperosok suatu hari, karena dari hari ke hari, kebutuhan pokok kok ya semakin sulit saja terpenuhi.''

''Terima kasih untuk kepintaranmu di sekolah. Aku selalu ingat bahwa dalam usia belia, kau sudah punya sistem belajar sendiri yang bahkan kupelajari. Ketika aku sedang sekolah S2 dulu, aku ingat waktu kau menasihati aku, "Bu, bila subjek yang harus dipelajari banyak pada waktu yang bersamaan, belajarlah dalam suasana dan cara yang berbeda.

'' Kalau kau ada metode baru lagi, bagikan kepadaku, ya? Bukankah mencari ilmu itu lebih penting dari pada mencari uang? Tamaklah akan ilmu tetapi sederhanakan nafsumu kepada uang. Allah sudah mencukupkan rezekimu. Mari kita pintar-pintar saja merasa cukup. Itu adalah kepintaran yang amat sulit tetapi menantang untuk dipelajari.''

''Jika kini ada seperangkat komputer tua di tanganmu, jangan marah jika aku mengingatkanmu untuk selalu menjaganya, karena kekuasaanmu atasnya hanya untuk menjaganya. Sebaliknya, jika kau ingin mengkritik caraku mendidikmu, katakan saja sejujurnya. Kekuasaanku atasmu juga ada batasnya. Amanah memang tidak pernah mudah, kecuali kita mau saling membatasi dan menjaga.''

''Kuasai sebanyak mungkin bahasa selagi kau masih muda. Tetapi juga, pelajari bahasa sunyi yang abadi, yang akan menghantarkan doa-doamu melambung kepada Yang Maha Esa, setiap detik dan pergantian hari.''

''Selalu kurindukan saat-saat kita bisa berbagi. Kurindukan juga saat-saat kelak kita bisa berbicara bersama dengan bahasa kasih-sayang, tanpa memandang agama, warna kulit, atau pun status sosial. Bukankah kita ini bersaudara, dengan sesama muslim, dengan sesama umat manusia, dan bahkan juga dengan sesama ciptaan Allah; dengan ilalang dan bahkan semut-semut yang melintas di meja makan kita.''

''Ketika kita hanya punya keimanan kepada Tuhan, ketulusan kepada sesama, dan kerinduan untuk menemukan Cinta yang sebenarnya dalam nama-Nya, jangan pernah menyesal. Mari kita berani untuk terus mencari, menemukan dan menyatakannya, apa adanya, sampai akhir hayat kita, karena untuk itulah kita ada.'' 

Sumber : Miranda Risang Ayu (Rubrik Resonansi harian Republika)

25 Januari 2009

Bersembunyi di Tempat Terang

Suatu malam, seorang pekerja sosial yang telah divonis menderita penyakit yang sulit disembuhkan karena kerja kerasnya yang keterlaluan dan sedang didera oleh kekambuhan, menemukan diri berada di tengah lorong gelap kesadarannya. Ia lalu mengabarkan keinginan terdalamnya kepada kesendirian. Katanya, "Sungguh aku ingin bersembunyi di tempat yang terang."

Keinginan itu membubung ke langit malam dan menggapai bintang-bintang. Saya tidak tahu apakah matahari juga ikut mendengarkan. Yang pasti, kalimat itu adalah sebuah harapan dalam kesendirian. Tidak ada yang bisa menganggukkan kepala dengan serta-merta sebagai tanda mengerti. Ketika diungkapkan, kediaman dinding dan eternit pun hanya meneguhkan.

Tetapi, keinginan itu mungkin termasuk kilatan hati yang bersifat rabbani, yang menggapai bintang-bintang, dan langsung disambut oleh pintu-pintu hati yang bersahaja.

Salah satunya oleh kesahajaan hati seorang remaja biasa; kesahajaan hati seorang mahasiswi tingkat akhir fakultas seni rupa dan desain dari sebuah perguruan tinggi di Bandung, yang biasa ber-jeans dan berkaos lengan pendek, menghabiskan waktu senggang di rumahnya dengan menonton film asing atau menikmati slow jazz, dan mengatasi tekanan proses pengusaian tugas akhirnya dengan jalan-jalan ke mal bersama kawan-kawannya.

Gadis ini sedang naik tangga sebuah pertokoan mentereng bersama sahabatnya, ketika tiba-tiba, seorang ibu tua pedagang rajutan yang duduk di samping trotoar, sedemikian mengganggu pikirannya. Ia lalu menggamit sahabatnya untuk mengurungkan niatnya berbelanja, turun lagi dari tangga yang hampir usai dijejakinya, menghampiri ibu tua itu, lalu memilih hasil rajutan terbesar sambil lupa semua standar penilaian desain bermutu yang secara akademis telah begitu dikuasainya.

Disodorkannya semua uang yang semula diniatkannya untuk membeli sebuah kaset. Dan, ketika dilihatnya, si ibu sedang mencari uang kembalian yang cukup besar, ditinggalkannya ibu itu.

Cahaya juga bersambut hanya dengan gelap malam sebagai saksi, ketika seorang gadis strata menengah hendak menjemput ibunya yang baru pulang dari luar kota di stasiun kereta api. Seorang pedagang bakso tahu yang telah keriput, yang duduk di pojok stasiun sambil terkantuk-kantuk dalam ketidakberdayaan yang menggigit, tiba-tiba merenggut konsentrasinya.

Berpaling dia ke pojok gelap itu, lalu dibelinya sepiring baso tahu dari pedagang tua itu, tanpa peduli kios-kios makanan yang begitu yakin menjajakan diri. Lalu, disorongkannya sepuluh ribu rupiah ke depan mata pedagang itu, dan sebelum pedagang itu sembuh dari kantuknya, kerejap cahaya keharuan menghalaunya untuk langsung berlalu.

Cahaya itu pun telah berkerejap tanpa peduli waktu. Sebelum keinginan untuk bersembunyi di tempat yang terang itu menjadi kalimat yang dilontarkan, telah ada cerita tentang orang-orang yang menolak untuk disebutkan identitasnya, tetapi diam-diam menyisihkan sebagian uang hingga tenaganya untuk disumbangkan ke panti asuhan, penggalangan dana bagi kelompok marjinal, dan banyak lagi.

Cahaya itu pun mungkin masih berkerejap dan akan terus berkerejap, kini dan nanti. Cahaya itu membuat orang-orang yang beruntung tiba-tiba terdorong untuk secara sadar menghindari pujian, dan merindukan terangnya cahaya memberi dengan tangan kanan tanpa sepengetahuan tangan kiri sebagai satu-satunya balasan.

Lalu? Saya menjadi sangat malu karena ketika itu, saya mungkin sedang tertidur pulas di kasur "egoistik" yang terlalu empuk.

Sumber: Miranda Risang Ayu dalam www.republika.co.id

18 Januari 2009

Mencintai Itu Keputusan

Lelaki tua menjelang 80-an itu menatap istrinya. Lekat-lekat. Nanar. Gadis itu masih terlalu belia. Baru saja mekar. Ini bukan persekutuan yang mudah. Tapi ia sudah memutuskan untuk mencintainya.

Sebentar kemudian ia pun berkata,"Kamu kaget melihat semua ubanku? Percayalah! Hanya kebaikan yang kamu temui di sini". Itulah kalimat pertama Utsman bin Affan ketika menyambut istri terakhirnya dari Syam, Naila.

Selanjutnya adalah bukti.
Sebab cinta adalah kata lain dari memberi.
Sebab memberi adalah pekerjaan..
Sebab pekerjaan cinta dalam siklus memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi itu berat.
Sebab pekerjaan berat itu harus ditunaikan dalam waktu lama.
Sebab pekerjaan berat dalam waktu lama begitu hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang memiliki kepribadian kuat dan tangguh.
Maka setiap orang hendaklah berhati-hati saat ia mengatakan, "Aku mencintaimu". Kepada siapapun!

Sebab itu adalah keputusan besar. Ada taruhan kepribadian disitu. Aku mencintaimu, adalah ungkapan lain dari Aku ingin memberimu sesuatu.

Yang terakhir ini juga adalah ungkapan lain dari.....,
"Aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia..."
"aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar bisa tumbuh semaksimal mungkin..."
"aku akan merawat dengan segenap kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harian yang akan kulakukan padamu ..."
"aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu...."

Dan proses pertumbuhan itu taruhannya adalah kepercayaan orang yang kita cintai terhadap integritas kepribadian kita.

Sekali kamu mengatakan kepada seseorang, "Aku mencintaimu", kamu harus membuktikan ucapan itu.

Itu deklarasi jiwa bukan saja tentang rasa suka dan ketertarikan, tapi terutama tentang kesiapan dan kemampuan memberi, kesiapan dan kemampuan berkorban, kesiapan dan kemampuan pekerjaan-pekerjaan cinta: memperhatikan, menumbuhkan, merawat dan melindungi. Sekali deklarasi cinta tidak terbukti, kepercayaan hilang lenyap.

Tidak ada cinta tanpa kepercayaan. Begitulah bersama waktu suami atau istri kehilangan kepercayaan kepada pasangannya. Atau anak kehilangan kepercayaan kepada orang tuanya. Atau sahabat kehilangan kepercayaan kepada kawannya. Atau rakyat kehilangan kepercayaan kepada pemimpinnya. Semua dalam satu situasi: cinta yang tidak terbukti. Ini yang menjelaskan mengapa cinta yang terasa begitu panas membara di awal hubungan lantas jadi redup dan padam pada tahun kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.

Dan tiba-tiba saja perkawinan bubar, persahabatan berakhir, keluarga berantakan, atau pemimpin jatuh karena tidak dipercaya rakyatnya.

Jalan hidup kita biasanya tidak linear. Tidak juga seterusnya pendakian, atau penurunan. Karena itu, konteks di mana pekerjaan-pekerjaan cinta dilakukan tidak selalu kondusif secara emosional.

Tapi disitulah tantangannya: membuktikan ketulusan di tengah situasi-situasi yang sulit. Di situ konsistensi teruji.

Di situ juga integritas terbukti. Sebab mereka yang bisa mengejawantahkan cinta di tengah situasi yang sulit, jauh lebih bisa membuktikannya dalam waktu yang longgar.

Mereka yang dicintai dengan cara begitu, biasanya mengatakan bahwa hati dan jiwanya penuh seluruh. Bahagia sebahagia-bahagianya. Puas sepuas-puasnya. Sampai tak ada tempat bagi yang lain. Bahkan setelah sang pencinta mati.

Begitulah Naila. Utsman telah memenuhi seluruh jiwanya dengan cinta. Maka ia memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah suaminya terbunuh.

Ia bahkan merusak wajahnya untuk menolak semua pelamarnya. Tak ada yang dapat mencintai sehebat lelaki tua itu

Segenggam Gundah (Ode untuk Para Ayah)

Subuh tadi saya melewati sebuah rumah, 50 meter dari rumah saya dan melihat seorang isteri mengantar suaminya sampai pagar depan rumah. "Yah, beras sudah habis loh...," ujar isterinya. Suaminya hanya tersenyum dan bersiap melangkah, namun langkahnya terhenti oleh panggilan anaknya dari dalam rumah, "Ayah, besok Agus harus bayar uang praktek."

"Iya...," jawab sang Ayah. Getir terdengar di telinga saya, apalah lagi bagi lelaki itu, saya bisa menduga langkahnya semakin berat.

Ngomong-ngomong, saya jadi ingat pesan anak saya semalam, "Besok beliin lengkeng ya" dan saya hanya menjawabnya dengan "Insya Allah" sambil berharap anak saya tak kecewa jika malam nanti tangan ini tak berjinjing buah kesukaannya itu.

Di kantor, seorang teman menerima SMS nyasar, "Jangan lupa, pulang beliin susu Nadia ya". Kontan saja SMS itu membuat teman saya bingung dan sedikit berkelakar, "Ini, anak siapa minta susunya ke siapa". Saya pun sempat berpikir, mungkin jika SMS itu benar-benar sampai ke nomor sang Ayah, tambah satu gundah lagi yang bersemayam. Kalau tersedia cukup uang di kantong, tidaklah masalah. Bagaimana jika sebaliknya?

Banyak para Ayah setiap pagi membawa serta gundah mereka, mengiringi setiap langkah hingga ke kantor. Keluhan isteri semalam tentang uang belanja yang sudah habis, bayaran sekolah anak yang tertunggak sejak bulan lalu, susu si kecil yang tersisa di sendok terakhir, bayar tagihan listrik, hutang di warung tetangga yang mulai sering mengganggu tidur, dan segunung gundah lain yang kerap membuatnya terlamun.

Tidak sedikit Ayah yang tangguh yang ingin membuat isterinya tersenyum, meyakinkan anak-anaknya tenang dengan satu kalimat, "Iya, nanti semua Ayah bereskan," meski dadanya bergemuruh kencang dan otaknya berputar mencari jalan untuk janjinya membereskan semua gundah yang ia genggam.

Maka sejarah pun berlangsung, banyak para Ayah yang berakhir di tali gantungan tak kuat menahan beban ekonomi yang semakin menjerat cekat lehernya. Baginya, tali gantungan tak bedanya dengan jeratan hutang dan rengekan keluarga yang tak pernah bisa ia sanggupi. Sama-sama menjerat, bedanya, tali gantungan menjerat lebih cepat dan tidak perlahan-lahan.

Tidak sedikit para Ayah yang membiarkan tangannya berlumuran darah sambil menggenggam sebilah pisau mengorbankan hak orang lain demi menuntaskan gundahnya. Walau akhirnya ia pun harus berakhir di dalam penjara. Yang pasti, tak henti tangis bayi di rumahnya, karena susu yang dijanjikan sang Ayah tak pernah terbeli.

Tak jarang para Ayah yang terpaksa menggadaikan keimanannya, menipu rekan sekantor, mendustai atasan dengan memanipulasi angka-angka, atau berbuat curang di balik meja teman sekerja. Isteri dan anak-anaknya tak pernah tahu dan tak pernah bertanya dari mana uang yang didapat sang Ayah. Halalkah? Karena yang penting teredam sudah gundah hari itu.

Teramat banyak para isteri dan anak-anak yang setia menunggu kepulangan Ayahnya, hingga larut yang ditunggu tak juga kembali. Sementara jauh disana, lelaki yang isteri dan anak-anaknya setia menunggu itu telah babak belur tak berkutik, hancur meregang nyawa, menahan sisa-sisa nafas terakhir setelah dihajar massa yang geram oleh aksi pencopetan yang dilakukannya. Sekali lagi, ada yang rela menanggung resiko ini demi segenggam gundah yang mesti ia tuntaskan.

Sungguh, di antara sekian banyak Ayah itu, saya teramat salut dengan sebagian Ayah lain yang tetap sabar menggenggam gundahnya, membawanya kembali ke rumah, menyertakannya dalam mimpi, mengadukannya dalam setiap sujud panjangnya di pertengahan malam, hingga membawanya kembali bersama pagi. Berharap ada rezeki yang Allah berikan hari itu, agar tuntas satu persatu gundah yang masih ia genggam.

Ayah yang ini, masih percaya bahwa Allah takkan membiarkan hamba-Nya berada dalam kekufuran akibat gundah-gundah yang tak pernah usai.

Para Ayah ini, yang akan menyelesaikan semua gundahnya tanpa harus menciptakan gundah baru bagi keluarganya. Karena ia takkan menuntaskan gundahnya dengan tali gantungan, atau dengan tangan berlumur darah, atau berakhir di balik jeruji pengap, atau bahkan membiarkan seseorang tak dikenal membawa kabar buruk tentang dirinya yang hangus dibakar massa setelah tertangkap basah mencopet.

Dan saya, sebagai Ayah, akan tetap menggenggam gundah saya dengan senyum. Saya yakin, Allah suka terhadap orang-orang yang tersenyum dan ringan melangkah di balik semua keluh dan gundahnya. Semoga.

oleh: Bayu Gautama

14 Januari 2009

Resensi Film "Perempuan Berkalung Sorban"

Jenis Film :Drama
Produser :Hanung Bramantyo
Produksi :Starvision

Cast & Crew
Pemain :Revalina S. Temat, Joshua Pandelaki, Widyawati, Oka Antara, Reza Rahadian, Ida Leman
Sutradara : Hanung Bramantyo
Penulis : Hanung Bramantyo, Ginatri S. Noor

Ini adalah sebuah kisah pengorbanan seorang perempuan, Seorang anak kyai Salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri. Anissa (Revalina S Temat), seorang perempuan dengan pendirian kuat, cantik dan cerdas. Anissa hidup dalam lingkungan keluarga kyai di pesantren Salafiah putri Al Huda, Jawa Timur yang konservatif. Baginya ilmu sejati dan benar hanyalah Qur'an, Hadist dan Sunnah. Buku modern dianggap menyimpang.

Dalam pesantren Salafiah putri Al Huda diajarkan bagaimana menjadi seorang perempuan muslim dimana pelajaran itu membuat Anissa beranggapan bahwa Islam membela laki-laki, perempuan sangat lemah dan tidak seimbang.

Tapi protes Anissa selalu dianggap rengekan anak kecil. Hanya Khudori (Oka Antara), paman dari pihak Ibu, yang selalu menemani Anissa. Menghiburnya sekaligus menyajikan 'dunia' yang lain bagi Anissa.

Diam-diam Anissa menaruh hati kepada Khudori. Tapi cinta itu tidak terbalas karena Khudori menyadari dirinya masih ada hubungan dekat dengan keluarga Kyai Hanan (Joshua Pandelaky), sekalipun bukan sedarah. Hal itu membuat Khudori selalu mencoba membunuh cintanya. Sampai akhirnya Khudori melanjutkan sekolah ke Kairo. Secara diam-diam Anissa mendaftarkan kuliah ke Jogja dan diterima tapi Kyai Hanan tidak mengijinkan, dengan alasan bisa menimbulkan fitnah, ketika seorang perempuan belum menikah berada sendirian jauh dari orang tua. Anissa merengek dan protes dengan alasan ayahnya.

Akhirnya Anissa malah dinikahkan dengan Samsudin (Reza Rahadian),
seorang anak Kyai dari pesantren Salaf terbesar di Jawa Timur. Sekalipun hati Anissa berontak, tapi pernikahan itu dilangsungkan juga. Kenyataan Samsudin menikah lagi dengan Kalsum (Francine Roosenda). Harapan untuk menjadi perempuan muslimah yang mandiri bagi Anissa seketika runtuh Dalam kiprahnya itu, Anissa dipertemukan lagi dengan Khudori. Keduanya masih sama-sama mencintai.…

Apakah cinta anissa dan Khudori berakhir di pernikahan? Bagaimana hubungan Anissa dan kedua orang tuanya dan Samsudin suaminya? Apakah Anissa dapat menjadi muslimah seperti yang diinginkan orang tuanya? Saksikan di bioskop-bioskop mulai 15 Januari 2009

http://blog.nikenike.net/2005/08/15/perempuan-berkalung-sorban/
http://www.21cineplex.com/perempuan-berkalung-sorban,movie,2004.htm

09 Januari 2009

Jokes of The Day

Rokoknya gak jadi aja deh
Bapak tua: "Aduuuuh . . . Haduuuuh"
Cowok panik kepada ibu penjaga warung: "Bu! Bu! Itu ada orang di luar teriak-teriak. Itu . . . gembel kali ya bu?"
Ibu penjaga warung: "Itu suami sayaaaaa!"
(Tebet, didengar dari dalam mobil oleh istri si cowok panik, yang tanpa sengaja telah melindas kaki si bapak tua)


Aku tiba-tiba gak nyaman di sini...
Anak lelaki 4 tahun: " Arti pecah belah apa sih, ma?"
Ibu: "Kalo itu kamu pecah, kamu mama belah."
(Toko pecah belah Pondok Indah Mal, didengar oleh wanita yang sampai hampir memecahkan belanjaannya)


Itu mah sekali jepret langsung lari...
Pembeli rese: "Mas,ada kamera paranoid ga?"
Penjaga bingung: "Hah?"
Pembeli rese: (nada sok tau) "Itu yg sekali jepret langsung jadi..."
(Studio Foto, didengar oleh wanita yang membayangkan ekspresi kamera ketakutan)


Gak bisa diusahain, mas?
Internet addict: "Mas, di sini ada hotspot-nya gak?"
Pelayan: "Kebetulan restoran kami hanya menyediakan makanan Indonesia dengan penyajian standard, mbak."
(Restoran di Kemang, didengar oleh seseorang yang hampir menelan sendok)


Kan sekarang jaman mahal!
Si bungsu perempuan ke Ibunya: "Jadi nanti kita daftar TV Kabelnya di Kebon Jeruk yah"
Ibu dengan wajah berseri-seri: "Ya, mending begitu. Kebon Jeruk kan enggak terlalu jauh dari rumah. Jadi nanti kabelnya bisa lebih pendek. Lebih murah."
(Rumah di Kemanggisan, didengar oleh kakak lelaki yang ingin menjedutkan kepalanya ke tembok)


Kalo sinyalnya menipis mungkin namanya berubah...
Nyokap: "Ini hape ibu ada G-String-nya ngga?"
Anak: (bengong, berharap salah denger) "Hah?"
Nyokap: "Ini Nokia 3300 ibu ada G-String-nya apa ngga?"
Anak: (masih bengong dan masih berharap salah denger) "G-String?"
Nyokap: "Iya. Itu lho, yang kalo nelepon kita bisa liat muka orang yang teleponan sama kita."
Anak: "Yaoloh! 3G?"
Nyokap: "Nah itu dia. Emang tadi ibu ngomongnya apa?"
(Didengar oleh anak yang sempat takut ibunya mulai bercerita tentang kumbang dan bunga)


Tambah satu kilo, saya lapar...
Pembeli: "Mas, beli paku tembok...."
Penjual: "Berapa?"
Pembeli: "Setengah kilo aja..."
Penjual: "Dibungkus?"
Pembeli: (dengan wajah kesal) "Gak! Makan sini!"
(Toko bangunan Bekasi, didengar pelanggan yang ingin menyediakan sambal)


Buah simalakama...
Ibu pengemudi yang tiba-tiba panik: "De, pegangin setirnya. Mama mau garuk pantat!"
Anak laki-laki berusia 18 tahun: "Ah, Mama! Gak mau ah!"
Ibu pengemudi yang tiba-tiba panik: "Kamu mendingan megangin setir apa garukin pantat Mama?"
(Tol Jagorawi, didengar anak perempuan di belakang yang ingin melompat keluar mobil)


Sehat bener ya, jaringannya...
Programmer 1: "Kemaren internet gua udah onlen, cuy"
Programmer 2: "Wah selamat-selamat, download pelm lah kita, gak perlu nonton serial di tipi!"
Coordinator: "Gaya bener lo pada, mentang-mentang udah pada pasang internet bearbrand..."
(Sebuah warung makan, didengar oleh teman-teman yang langsung bergulingan)


Yang horisontal kalau bisa!
Di sebuah restoran,
Teman #1: "Eh udahan yuk, kite cabs.."
Teman #2: "Gua aja yang panggilin.. Mas! Billboardnya ya!
(Restoran di Jakarta, didengar oleh banyak orang yang merasa kasihan dengan pelayannya)


Dulu di percetakan ya, mas?
Penjaga Parkir: "Wah mas, stiker parkir langganannya udah exemplar nih, besok diperpanjang ya."
(Perkantoran Sudirman, didengar oleh pengemudi yang akhirnya sadar ada tulisan EXP di stikernya)


Otomatis ya, mbak?
Kasir: "Mau order apa, mas?"
Pembeli: "Coca-Cola large satu, sama french fries satu... Itu aja, mbak."
Kasir: "Oke, saya ulang ya, Coca-Cola large satu, french fries large satu. Mau tambah kentang gorengnya, mas?"
(Restoran fastfood di Jakarta, didengar oleh pembeli yang merasa dicekokin)


Cewek & Rokok: Tidak baik untuk kesehatan?
Cowok berisik: "Jadi waktu itu gue lagi ngeliatin cewek cakep bener, terus gue nyalain rokok. Tapi yang kebakar malah BULU HIDUNG gue!"
(Trotoar dekat Plaza Senayan, didengar oleh pejalan kaki yang hampir tersandung)


Yuk,mareeee...
Petugas Atmosfear sambil menunjuk ke panel kamera: "Mas, nanti waktu meluncur jangan lupa melambai ya?"
Pemuda gemulai: "Ngondek maksud loe?"
FX, didengar oleh pengunjung yang terpingkal-pingkal sendiri.


Mungkin kacamata plus, Pak?
Lelaki Paruh Baya: "Mbak, pesanan saya yang kwetiau ganti deh."
Pelayan: "Jadi apa pak?"
Lelaki Paruh Baya: "Mau coba Ayam Nangkring deh..."
Pelayan: "Ayam Nanking maksud bapak?"
Lelaki Paruh Baya: "Eh, gak jadi deh.." (berpikir sambil liat menu) "Ini aja deh kalo gitu, Chicken Garden Blue...."
(Solaria, Mal Pondok Indah, didengar oleh pengunjung yang berasa ditonjok hidung dan kemudian ulu hatinya)


Money can't buy everything...
Cowo Tajir: "Wah, gua baru beli notebook baru, canggih, keren..."
Cowo Kere: "Oh ya, notebook loe merknya apaan?"
Cowo Tajir: "Microsoft."
(Perkantoran Hijau di Jakarta Selatan, didengar oleh cowo kere yang ngerasa otaknya lebih tajir)


Bis sekarang teladan...
Cewe baru belajar nyetir: "Gua itu paling males nyetir di belakang bis, tau sendiri kan bis suka ontime nunggu penumpang... "
(Kelapa Gading, didengar oleh saudara yang malas menjelaskan perbedaan besar "ontime" dan "ngetem")


Ini salah jari atau otak ya?
Lelaki sibuk di handphone: "Halo X, gua telepon ke nomor satunya ya (tutup) Halo... (mulai ngomong panjang lebar)... Lho? Ini siapa? Oh sorry, salah sambung! (memencet nomor lagi) Halo Y, loe gimana sih, ngasih nomer X ke gua kok salah sih! Gimana sih loe? (diam sesaat) Lho? Ini bukan Y ya? Sorry salah sambung..."
(Bank Swasta Pondok Indah, didengar oleh istri yang langsung tambah asik membaca email di BlackBerry-nya)


Itu beda lho...
Pengunjung: "Mbak, Coke-nya satu ya, pake es..."
Pelayan: "Maaf Mbak, Coke-nya gak ada, adanya Diet Coke."
Pengunjung: (Menunjuk menu) "Terus ini apa, Coca-Cola... Kok dibilang gak ada?"
Pelayan: "Kalau Coca-Cola ada, Mbak..."
Pengunjung: "Huh!"
(Cafe di FX, didengar oleh satu meja yang bersepakat menyuruh pelayan training ulang)


Wah, udah lama gak merhatiin dia...
Ibu mengejek anak kecil bersepeda: "Ih, lihat tuh, badan segede gitu kok masa naik sepeda sekecil itu, hahaha... (sesaat kemudian)... Lah, itu anakku!"
(Perumahan di Jakarta, didengar oleh teman yang langsung terbahak-bahak)


Ya namanya juga bajakan...
Saat nonton DVD,
Calon mahasiswa S1 FasilKom: "Oi itu jangan lupa kemsyen-nya. ."
Teman #1: "Kemsyen apaan sih?"
Calon mahasiswa S1 FasilKom: "Itu kemsyen... kemsyen, masa gitu aja ga tau sih?"
Teman #2: (mencari fasilitas "kemsyen" di menu) "Gak ada ah..."
Calon mahasiswa S1 FasilKom: "Itu lho, kemsyen en subtitiles.. ."
Apartemen daerah Kemanggisan, didengar oleh semua teman yang ingin mengumpulkan dana buat les bahasa inggris.


AC/DC gityuuu looooh...
Ketua Panitia: "Naahh.. pin yang ini desainnya bagus nih. Bisa buat cewek dan cowok. Biseks gitu!"
(Rapat Buka Bersama, didengar oleh sepasukan panitia yang merasa si ketua terlalu banyak nonton porno)


Lengkap banget deh...
Pelayan: "Minumnya, mbak?"
Teman #1: "Teh tawar anget"
Teman #2: "Saya... Teh manis anget"
Pelayan: "Hot tea... dan sweet ice tea hot" (tampang pede dan nyatet)
(Sebuah resto di Plasa Senayan, didengar oleh 2 orang teman yang mesem-mesem dan segera membenarkan ucapan pelayan tersebut)


Jadi selama ini masih ada yang lain?
Ibu menasehati anak perempuan semata wayang: "Nduk, waktu ibu punya anak perempuan seusiamu..."
(Didengar oleh kakak lelaki yang langsung berpikir apakah dia punya saudara kandung lain)


Emangnya gua badak?
Cewe mau ikut kursus: "Mbak, kalo disini ada kelas conservation gak?"
(Didengar oleh Student Advisor yang berasa di LSM)


Saya menghormati sejarah...
Account Executive: "Baik, kalau begitu kita meeting lagi Senin tanggal 20..."
Klien Besar: "Tanggal 20 itu hari Sabtu. Kita meeting Senin tanggal 22."
Account Executive: "Tapi tanggal 22 itu hari Rabu. (diam sesaat) Ups, my mistake, ini kalender tahun lalu."
(Didengar oleh semua kolega yang ingin membungkus AE itu dan mengirimnya ke Timbuktu)


I'm not worthy, I'm not worthy...
Klien Besar: "Ya sudah, besok kita meeting lagi ya...."
Account Executive: "Wah, bu, besok tidak bisa, kami ada janji dengan klien lain."
Klien Besar: (memandang sinis) "I am not your client... I am your god."
(Perkantoran di Gatot Subroto, didengar oleh seluruh tim agensi yang langsung menyatu dengan kursi masing-masing)


Yang pasti bisa buat nyelem...
Lelaki di toko kacamata: "Yang itu dong, Mbak... Liat...."
Pramuniaga: "Nah yang ini keren, Mas... Bahannya juga bagus, Titanic..."
(Optik di Mangga Dua, didengar oleh pengunjung yang ingin mendorong pramuniaga ke laut)


Makanannya seru deh!
Cowo: "Kemaren gua sama cewe gua buka puasa di PS 2..."
(Didengar oleh semua teman yang merasa cowo itu terlalu banyak main game)


Jaman susah sih....
Pada saat telepon gratis dua detik pertama,
Cowo Hemat: "Kamu dimana? (tutup) Apa? (tutup) Pulang... (tutup) PULANG! (tutup) Aku bilang kamu pula... Ah, goblok lebih dari dua detik!" (tutup)
(Didengar oleh teman yang ingin merebut dan merebus handphone itu)


Jangan terlalu mateng ya!
Pria duduk dan langsung berteriak memesan: "Mas, Ovaltine bakar satu!"
(Warung Tenda Jakarta, didengar oleh seseorang yang hampir jatuh dari kursinya)


Menurut sejarah, gak baik loncat-loncat...
Ditengah sebuah konser,
Wanita Bingung: "Waduh... Minggir, minggir, kacamata saya jatuh... Awas jangan diinjak!"
Lelaki Baik: "Kenapa mbak, kenapa?"
Wanita Bingung: "Ini mas, kacamata saya jatuh, duh gimana ya?"
Lelaki Baik: "Sini saya bantu cariin. Wah si mbak nih, makanya lompatnya pelan-pelan, jangan terlalu histori..."
Wanita Bingung: "Histori?"
(Senayan, didengar oleh penonton lain yang tiba-tiba tidak bisa loncat lagi)


Kalo nyapa yang bener dong... HUH!
Penjaga Toko: "Silahkan kak, Giordano..."
Lelaki Gemulai Nan Jutek: (Menatap sinis) "Sorry! Nama gua bukan Giordano!"
(EX, didengar oleh teman-temannya yang langsung berteriak "Apaan sih tcooooong!")


Ini yang salah ngerti siapa ya?
Pria: "Mbak, pesen es teh manis..."
Pelayan: "Es-nya habis mas..."
Pria: "Ya udah, es teh tawar..."
Pelayan: "Iya, mas..."
(Restoran di Jakarta, didengar oleh pengunjung lain yang berpikir cara buat es...)


Maksud gua buat naruh barang!
Mahasiswa S2 mengomel: "Heran gua, hotel sebesar ini gak ada ballroom-nya! "
Teman: "Emang loe mau ngapain, resepsi?"
Mahasiswa S2: "Mau minta koper gua dibawain ke kamar nih!"
Teman: "Bellboy kaleeeee!"
(Hotel bintang lima di Kebon Sirih, didengar oleh semua teman gaulnya yang memaklumi mahasiswa yang baru saja tidak lulus TOEFL)


Gak usah pake mangkok aja!
Nyonya: "Mbak, tolong beliin bakso di ujung jalan sana ya, beli empat bungkus, dua campur pake mie, dua baksonya aja..."
PRT Baru: "Yang baksonya aja pake kuah gak, bu?"
(Jakarta, didengar oleh seseorang yang tertawa gila-gilaan)


Pengetahuanmu luas, nak...
Mahasiswa #1: "Eh, lo demen Mocca gak?"
Mahasiswa #2: (berpikir sebentar) "Halal gak?"
Mahasiswa #1: "Ya elah, bukan mocca minuman, tapi Mocca band!"
Mahasiswa #2: (dengan begitu PD) "Ah, kalo band-band luar negeri gitu gua nggak demen..."
(Jakarta, didengar oleh seseorang yang memejamkan mata dan berteriak dalam hati)


Belum, lagi jelek koneksinya.
Researcher: "Eh pensil gua kemana ya?"
Researcher Khusyuk Internetan: "Kenapa loe?"
Researcher: "Pensil gua ilang! Loe tau gak dimana? Udah gua cari kemana-mana nih! Mana sih ya?
Researcher Khusyuk Internetan: "Udah loe cari di google belum?"
(R&D Jakarta, didengar oleh satu divisi yang merasa salah satu dari mereka kena penyakit internetan akut)


Kalo bisa yang triple L!
Ibu #1: "Saya yang well-done ya."
Pelayan: "Baik, bu. (Ke ibu lainnya) Ibu steaknya mau gimana?"
Ibu #2: "Maksudnya mas?"
Pelayan: "Mau yang medium atau..."
Ibu #2: (Memotong dengan mantap) "Ooooh, saya yang large aja, mas!"
(Restoran Steak di Jakarta Selatan, didengar oleh ibu lain yang merasa harus membenahi make-up tiba-tiba)


Makanya perhatian dong!
Si Pemimpi: "Gua pengen bikin bagasi gua jadi home theater deh.."
Si Serius: "Hah, gimana caranya?"
Si Pemimpi: "Ya nanti gua mau tambahin (mulai penjelasan teknis)."
Si Serius: "Home theater portabel gitu?"
Si Pemimpi: "Ya nggak lah, gimana caranya loe bawa-bawa bagasi?"
Si Serius: "Ya ditenteng gitu? Eh, maksud loe bagasi apa nih?"
Si Pemimpi: "Ya itulah! Yang tempat parkir mobil... Masa loe gak tau sih?"
Si Serius: "Euh, itu kayaknya garasi kali!"
(Reuni alumni di Jakarta, didengar oleh seseorang yang langsung harus ke kamar kecil)


Ah, jangan buka rahasia dong...
Tukang Sate: "Masnya apa nih?"
Mahasiswa Tegas: "Gua kambing! (ke temannya) Loe?"
Mahasiswa gemulai: "Aku ayam..."
(Pondok Sate di Jakarta Barat, didengar oleh mahasiswi yang merasa mendengar pengakuan)


Yang penting kan tata krama!
Pembeli Santun ke Penjual Sop Kaki: "Daging tiga sama kaki dua, udah itu aja. Eh, kakinya yang kanan ya!" (Semua pengunjung tertegun)
Penjual Sop Kaki: "Mmmm, kenapa harus yang kanan, Pak?"
Pembeli Santun: "Yaaa, biar lebih sopan aja... Kakinya yang kanan gituuu!"
(Tenda Sop Kaki Kambing di Tebet, didengar semua pengunjung yang hampir tersedak)


Abis Bapak selalu pengen gabungin semua alternatif sih!
Account Director ke klien: "Tapi pak hal itu sulat dilakukan! (hening) Euh, saya mau milih antara sulit dan sukar malah keluar dua-duanya."
(Kantor di Gatot Subroto, didengar oleh kolega yang diam-diam melipir)


Saya kan gak pernah ngerti dunia itu!
Pejabat: "Selamat sore, hari ini adalah hari yang bahagia karena kita menjadi tuan rumah untuk event internasional yaitu Festival Seni Koremponter. ..."
(Seluruh hadirin tertawa)
Pejabat: "Maksud saya Korentomper. .."
Tamu Gemas: "Kontemporer, pak!"
Pejabat: "Ya harap maklum, saya kan bukan seniman!"
(Galeri Nasional Jakarta, didengar oleh hadirin yang langsung mengeluarkan palu dan pahat)


Ini tindak lanjut yang penuh cinta!
Reporter: "Pak, bagaimana perkembangan kasus korupsi X, apakah ada tindak lanjut dari instansi bapak, seperti pemberian sanksi ?"
Pejabat: "Sejauh ini masih kita pantau dulu, hal ini sedang dibicarakan bagaimana-bagaimananya"
Reporter: "Apakah justru ini melibatkan orang dalam pak?"
Pejabat: "Loh, anda tidak boleh sembarangan begitu... Kita harus lihat situasi ini kiss per kiss nya..."
Reporter: "Maksud bapak case by case ?"
Pejabat: (malu) "Iyalah gitu."
(Kantor Kepemerintahan, didengar oleh kameraman yang menutup mulutnya takut dicium....)


Kan lulusan S3 Ilmu Angkotan!
Pengendara Motor Gak Sabar: "Maju dong! Dasar Bego!"
Supir Angkot Intelektual: "Kalo gua bego, gua gak bakal jadi supir angkot tau!"
(Di bawah flyover Depok, didengar oleh penumpang angkot yang tiba-tiba mempertanyakan pendidikan yang dia jalani selama ini)


Gak mau tawar aja?
Mahasiswa Genit ke penjual kantin yang cantik: "Mau es teh... manis.."
(Kantin kampus Jakarta, didengar oleh teman yang tiba-tiba sok belajar buat UAS)


Si Pitung ada gak, Beh?
Penonton Berisik: "Naaah, nyang itu no Neo namenye, si Neo, Neo..."
Adegan di Layar: "Hello, Mr. Anderson..."
Penonton Berisik: "Eh bukan ding, bukan Neo... itu Mr. Anderson namanya!"
(Bioskop pinggiran Jakarta Timur, didengar oleh penonton di depan yang memilih antara tertawa atau melempar popcorn)


Hindari makanan cepat saji..
Penumpang biasa dari kota: laper nih, tuh ada tempat makan, kita pesen drive thru aja, biar bisa langsung bawa pulang..
Pengemudi kaya dari desa: okedeh.... (setelah sampai) ng.. mbak pesen drive-thru nya dua..
(perut penumpang itu mendadak kenyang)


Penuh pengertian...
Pelayan ramah: selamat siang, mau makan disini atau di bawa pulang?
Pembeli kikuk: makan-nya di meja saja, masa' mau makan disini? (sambil menoleh kasian ke orang yang antri di belakangnya)
(Pengantri di belakangnya tiba-tiba pindah ke antrian lain..)


Fasilitas POM Bensin..
Penumpang rewel: aduhh, belet pipis banget nihhhh!!!
Pengemudi santai: iya, bensinnya juga tinggal dikit kok..
(penumpang lain lalu berpikir kalo kencing adalah bahan bakar alternatif)



Sumber : milis e-ketawa