22 April 2009

Emak ku Bukan Kartini

Emakku bukan Kartini. Dia hanya anak seorang petani kelapa. Istri seorang petani kelapa pula. Sampai akhir hayatnya dia buta huruf latin (bisa membaca huruf Arab). Dia tak sekolah bukan karena tak hendak. Dia tak sekolah karena berbagai kombinasi yang tak menguntungkannya.

Suatu hari di kampung kedatangan ustaz dari desa lain. Ada pengajian kecil, mempelajari sifat dua puluh. Emak, ketika itu seorang gadis kecil, ingin ikut serta belajar. Tapi ia dihardik ayahnya. "Kau bukan anak perempuan yang patut untuk menjadi cendekia." Emak hanya bisa menangis.

Tapi Emak tak pernah mengeluh. Pun ia tak melawan. Ia hanya menunggu datangnya sesuatu: Kebebasan.

Yang ia tunggu itu datang kemudian, saat ia menikah. Ayah ketika itu adalah seorang buruh tani. Kerjanya memanjat kelapa milik orang, mengumpukannya ke suatu tempat hingga siap dijual. Ia sepertinya puas dengan upah yang dia terima. Tapi Emak tidak. Ia sudah melihat banyak kehidupan buruh tani. Sampai tua mereka tetap miskin.

Maka ia paksa Ayah untuk pindah kampung. Hijrah. Ini adalah titik tolak baru dalam sejarah hidup Emak. Ia pindah ke kampung baru. Di kampung itu masih tersedia lahan yang bisa dibuka. Hanya perlu tenaga untuk menebang pohon.

Bersama Ayah, dia memulai hidup pengantin barunya di sebuah gubuk, menumpang di tanah paman jauhnya. Salah satu tiang gubuk itu adalah batang bohon hidup. Berdinding dan beratap daun nipah, berlantai belahan kayu nibung. Dari gubuk itulah nasibnya ia ubah.

***

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari kerja keras. Tak pernah Emak berfikir bahwa ia seorang perempuan, sehingga seharusnya beban kerjanya lebih ringan. Bersama Ayah ia mengayun kampak, menebang rimba untuk membuka lahan. Lahan itu kemudian menjadi ladang padi. Hasil panen padi adalah bekal makan selama setahun. Di lahan itu pula ia mulai menanam kelapa, membuat kebun.

Emak bekerja keras, lebih keras dari orang lain. Sore hari saat orang sudah rapih reriungan dengan keluarga, ia baru pulang dari ladang. Di gubuknya ia masih harus masak untuk makan malam.

Kerja keras itu berhasil. Bebeberapa tahun kemudian kelapanya sudah mulai menghasilkan. Tak banyak memang. Tapi setidaknya keluarga kami sudah punya masa depan. Seingatku ketika kemudian aku lahir sebagai anak ke delapan, keluarga kami bukan keluarga miskin buruh tani, tapi keluarga pemilik beberapa bidang kebun kelapa, meski bukan pula keluarga kaya.

***

Emak ingin belajar. Ia tak mengeluh ketika niatnya dihalangi. Ia pun tak menangisi kesempatan yang berlalu namun tak pernah dapat ia raih. Tapi ia tahu cara mengubah nasibnya. "Mereka bisa menghalangiku untuk belajar. Tapi tak seorangpun bisa menghalangi anak-anakku." begitu tekadnya. Saat abangku yang tertua memasuki usia sekolah, di kampung kami belum ada sekolah. Emak tak menyerah. Ia bersama ayah mengayuh sampan selama tiga hari. Tiga hari. Ke kampung pamannya, seorang lurah. Di situlah abangku dititipkan untuk bersekolah.

Itulah mulanya, lalu kami semua kakak beradik bisa bersekolah.

Sadar dengan tekad itu Ayah tergerak. Ia ajak orang kampung membangun sekolah. Ia datangkan guru dari kampung lain. Itulah sekolah yang kemudian mengubah nasib banyak orang di kampung kami.

***

Tak cukup bertani, Emak berdagang untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Dia beli pakaian, obat-obatan, apa saja yang laku dijual dari kota, ia jajakan berkeliling dari rumah ke rumah. Sambil belanja kebutuhan dagang ia bisa menengok anak-anaknya yang sekolah di kota. Di lain ketika Emak jadi perias pengantin. Berkeliling ke berbagai kampung, sambil tetap menjajakan dagangannya. Hingga akhirnya semua anaknya bisa sekolah tinggi.

Di hari tuanya Emak bisa beristirahat. Kami yang sudah bekerja bisa memberi dia makan, mencukupi kebutuhannya. Saat aku lulus sarjana, Emak bilang, "Kau bekerjalah di sini, di dekat Emak." Aku menurut. Tapi aku juga masih ingin sekolah. Saat kesempatan itu datang, Emak keberatan. Dia ingin aku tetap di sisinya. "Sudah cukuplah kau sekolah. Kau sudah jadi sarjana."

Aku bujuk Emak. "Mak. Ingat kan, dulu Emak bekerja mati-matian agar kami bisa sekolah. Sekarang ini saya dapat beasiswa. Artinya saya tidak perlu membayar untuk sekolah. Malah saya dibayar. Saya mengkhianati cita-cita Emak kalau saya tidak sekolah lagi." Akhirnya Emak mengalah, aku diijinkannya pergi.

Aku berangkat sekolah ke Malaysia. Tapi saat aku di Jakarta aku dengar Emak pingsan di kamarku saat membersihkannya. Kepergianku begitu melukainya.

Tapi Emak tak meratapi itu. Setelah aku, saudara-saudaraku yang lebih tua juga dapat kesempatan melanjutkan kuliah. Pernah suatu saat hanya ada abangku yang tertua di sisi Emak. Anak laki-lakinya yang lain pergi jauh.

Sedihkah Emak? "Sepi", katanya. "tapi sepi itu bisa Emak obati dengan rasa bangga."

***

Emakku bukan Kartini. Ia tak menulis surat, yang membuat orang lain bergerak. Ia bahkan tak bisa menulis. Tapi dengan tangannya, dia mengubah nasibnya. Nasib kami.

By: Sutan Paruik Gadang

15 April 2009

Terima Kasih, Istriku ...

Kemarin, tanggal 22 Februari, genap 20 tahun kami menikah. Sebuah angka yang belum apa-apa bagi banyak pasangan luar biasa. Mereka bisa merayakan 'kawin perak 25 tahun', 'kawin emas' 50 tahun, atau bahkan lebih. Buat mereka, pencapaian pernikahan 20 tahun tentu cuma pencapaian para pemula.

Namun bagi saya dan istri, (baru) 20 tahun pernikahan adalah karunia besar. Di generasi kami, tak banyak yang mampu melewati waktu sependek itu secara mulus. Sejumlah orang yang saya kenal baik gagal melanjutkan pernikahannya. Alasannya beragam. Padahal, banyak di antara mereka yang berpendidikan tinggi. Kadang pengetahuan agamanya juga tak diragukan. Kenapa begitu?

Sesekali saya dan istri mendiskusikannya. Kami sepakat: Penyebab tersering perceraian adalah selingkuh. Ketika salah satu pihak mulai mencederai komitmen awalnya dan berselingkuh, goyahlah sendi-sendi keluarga. Terutama bila selingkuh itu telah diwarnai hubungan seksual. Lewat pernikahan diam-diam, apalagi zina.

Tidak sedikit orang berselingkuh dan tidak merasa berdosa karena tidak berzina. "Kan cuma 'curhat', atau makan bareng," kilahnya. Tapi, sulit bagi penyelingkuh buat menyangkal bahwa curhat itu adalah kerikil yang ia tabur sendiri ke tengah jalan perkawinannya.

Kadang penyebab kandas perkawinan lebih sepele: "Sudah nggak cocok lagi!" Begitu ringan kalimat itu diucapkannya. Pasangan demikian, mungkin sangat berpengalaman berganti-ganti pacar sebelum menikah. Anak-anak sekarang biasa empat-lima kali ganti pacar sebelum menikah. Dalam pacaran, kalau ada masalah putus saja. Ngapain pusing.

Kebiasaan itu dibawa ke perkawinan. Buat mereka pernikahan begitu kasual: toh banyak yang saat menikah sudah tak perjaka dan perawan. Pernikahan cuma sedikit lebih sakral ketimbang pacaran. Saya bersyukur tidak masuk kategori 'anak sekarang' itu. Semoga anak-anak saya pun tidak masuk kategori itu.

Tapi, tak semua pasangan 'nggak cocok' memilih berpisah. Banyak pula yang memilih mempertahankan pernikahannya. "Awet rajet," begitu kata orang Sunda. Bertengkar melulu tapi terus bertahan. Alasannya beragam. Misalnya, demi anak. Dalam model keluarga begini, kita akan sibuk mendaftar kesalahan pasangan sendiri. Kita cenderung menudingnya tak bertanggung jawab pada anak.

Sangka kita, kita lebih bertanggung jawab dan lebih baik pada keluarga. Kita lupa bahwa pasangan hidup, sedikit banyak, adalah cermin diri sendiri. Jika nilai rapornya menurut kita merah, hampir pasti merah pula nilai rapor kita. Kita tak lebih baik dari pasangan kita. Mengapa kita tak memperbaiki diri sendiri saja? Biarkan ia memperbaiki dirinya sendiri pula. Mengapa kita terus menjadikan anak sebagai 'senjata' buat menghadapi pasangan sendiri?

Ada pula model berkeluarga yang sekarang sedang menjadi 'tren'. Biasanya, posisi suami di keluarga sangat dominan. Ketika ekonomi keluarga kian mapan, dan ikatan suami-istri tak lagi terbungai perasaan berdebar-debar, suami pun membidikkan mata dan hati pada perempuan lain. Berzina jelas haram. Solusinya adalah pernikahan. Istri dengan istri dipersandingkan. Tak penting bagaimana perasaan istri yang dulu seperti dijanjikan menjadi ratu keluarga sepanjang usia.

Tak penting pula bagaimana perasan anak-anak, meskipun mereka merasa malu atas langkah ayahnya. Laki-laki demikian umumnya punya kemampuan untuk membuat istri dan anak-anaknya terdiam. Apalagi bila menggunakan alasan syariah. Sebuah format syariah yang berbeda dengan yang ditunjukkan pasangan Muhammad SAW-Khadijah: Mereka hidup bersama tanpa poligami hingga maut memisahkannya.

Perjalanan 20 tahun pernikahan saya tidak semeriah kawan-kawan itu. Pesta pernikahan saya dulu sederhana saja. Saya merasa tidak sepantasnya bila awal perjalanan dipestakan megah. Saya dan istri lalu mengisi pernikahan dengan langkah-langkah sederhana. Misalnya, untuk sama sekali tidak pernah meninggikan suara karena hanya akan saling melukai.

Juga untuk tidak mengatakan "saya kan sudah berkurban ..." karena pernyataan itu sebenarnya lebih merupakan ekspresi menuntut dibanding sungguh-sungguh berkurban. Kami saling mendoakan, juga mendoakan secara spesifik anak-anak dengan menyebut nama satu persatu, setiap habis shalat. Juga menciptakan suasana agar setiap anggota melangkah hanya yang dapat membuat semua anggota keluarga lain dapat berjalan 'tegak'. Itu langkah kami.

Kini hari-hari kami banyak terisi dengan duduk bersama menikmati kesenyapan dengan tangan saling genggam, menunggu Subuh diazankan. Sungguh itu merupakan karunia luar biasa. Sebuah kenyamanan yang mencetuskan tanya istri saya: "Mengapa pada banyak orang begini saja tidak bisa? Apa sulitnya?" Saya tak tahu jawabnya. Saya hanya bisa berkata "Terima kasih ya."

Sumber Zaim Ukhrowi dalam www.republika.co.id

Dedication for Celebrating of 10 years wonderful life. Terima kasih yang setia menyalakan lilin dalam hangatnya hati. Terus ya, jadi manikam berkilau untuk hidup jadi indah. Semoga DIA berkenan menyatukan kita dalam ikatan kebahagiaan hakiki, di sini, sampai nanti. You are still queen in my heart.

24 Maret 2009

Kadar Kesetiaan

Sedemikian tinggi dan mendalamkah seorang hamba Allah mesti terbang dan melayang ke semesta ilmu dan kemuliaan? Tidakkah manusia bisa bersikap wajar dan biasa-biasa saja? Ataukah itu alibi untuk memaafkan kelemahan diri, keterbatasan, dan kekurangannya dalam melakukan sesuatu?

Jangan dengarkan suaraku, karena suaraku buruk. Dengarkanlah suara Tuhan...

Kalau suaraku buruk, orang justru akan sangat mengingatnya karena tersiksa. Kalau suaraku agak bagus, orang mengingatnya, tapi dengan kadar yang lebih rendah dibanding ingatan terhadap suara buruk -- sebab kecengengan manusia terhadap penderitaan cenderung lebih besar dibanding rasa syukurnya terhadap kegembiraan.

Dengan ungkapan dan jawaban saya itu kenapa kau terpaku pada suaraku? Di situlah letak ketidakberhasilan yang saya maksud.
Orang menikmati terangnya lampu tanpa mengingat kabel listrik.
Orang menikmati makanan enak di warung dan tidak bertanya siapa nama orang yang memasaknya di dapur. Penyanyi, pembaca puisi, qari, pelukis, muballigh, penyampai ilmu, pembawa hikmah, atau fungsi-sungsi nilai apa pun, hanyalah 'kabel listrik'.

Tidaklah senonoh kita menuntut orang untuk mengagumi kita sebagai kabel listrik, sebab yang sampai ke mereka adalah cahaya. Tukang listrik jangan kasih dan taruh lilitan kabel-kabel ke wajah orang. Kita para seniman, ulama, pengurus negara, pekerja sosial, fungsionaris-fungsionaris sejarah, di wilayah mana pun dari kehidupan umat manusia -- wilayah mana pun dari kehidupan umat manusia -- hanyalah pengantar cahaya, bukan cahaya itu sendiri. Seperti rembulan, kita hanya memantulkan cahaya matahari agar menimpa bumi. Terkadang kita malah merekayasa berlangsungnya gerhana matahari untuk mengantarkan kegelapan, tetapi sambil memobilisasi orang untuk mengagumi kita.

Seandainya pun sebagai rembulan kita setia memantulkan rahmat Tuhan ke bumi kehidupan manusia, yang kita andalkan untuk mendapatkan nilai bukanlah cahaya itu sendiri, melainkan kadar kesetiaan.

(Emha Ainun Nadjib/Republika/2001/PadhangmBulanNetDok)

23 Maret 2009

Kepada Jelitheng (Refleksi Sebuah Kesyukuran). Alhamdulillah ...

Berapa tahun sudah usiamu jika hari ini 17 januari?

semestinya kita tidak menghitung lagi angka
karena bisa saja sejuta sama dengan kosong
jadi tidakkah selayaknya waktu kita takar dengan arti
sehinggga masa silam dan kemarin kuasa menambah cahaya matahari

apa arti kata "selamat ulangtahun" jika kita sendiri tong hampa
bukankah pada akhirnya ajalpun yang tidak lagi jadi puncak duka tetap kita tantang sendiri
sebagaimana dahulu kita menarung topan dan ancaman langit menteror negeri
satu periode lewat kita menangkan tapi awas, esok apakah kita tetap tegak?

maka mari kita masak sendiri
mari kita bikin kue ulang tahun seadanya
tanpa lilin karena cahaya patut dijaga
jangan dipadamkan

berapa tahun sudah usiamu jika hari ini 17 januari?
semestinya kita tidak menghitung lagi angka
karena bisa saja sejuta sama dengan kosong
jadi tidakkah selayaknya waktu kita takar dengan arti
sehinggga masa silam dan kemarin kuasa menambah cahaya matahari

menjawab ucapan selamat maukah kau katakan juga kepada anak-anak: "jangan menjadikan hidup bagai busa sungai"?

ulangtahun seperti waktu
akhirnya selalu menanyai makna
menanyai diri siapa kita?
dan waktu merentang hakekat
akupun masih saja menanyai diri
akhirnya siapa?

Paris, Januari 2004.
-------------------
JJ. Kusni

"Rabb, bentuk kesyukuran apa yang pantas bagi aku, pendosa, untuk mendekat padaMu? Alhamdulillah, alhamdulillah ..." (celebrating wonderful life-circle)

Tentang Cinta ...

Ya Tuhan,
Selama ini cintaku cuman cinta monyet,
senyum-senyum sendiri memandangi si dia punya potret,
tetapi tak lama kemudian ia pun ku coret,
cinta monyet memang tidak pernah awet.

Kini aku memohon kepada-Mu, Tuhan.....
tolong supaya cintaku menjadi dewasa sungguhan,
bukan lagi senang-senang berpacaran,
melainkan mempertimbangkan teman hidup masa depan.
Ukuran bukan lagi wajah yang rupawan atau rayuan yang menawan,
melainkan apakah dia punya kepribadian dan bisa cocok seumur hidup sebagai pasangan.

Ternyata belajar memasuki cinta dewasa sungguh susah,
harus bisa tidak menang sendiri dan berat sebelah,
melainkan belajar memecahkan masalah dan mau minta maaf kalau bersalah.

Cinta dewasa berarti jujur terhadap dunia nyata,
masing-masing menampilkan diri tidak pura-pura,
menyimak sifat baik dan sifat buruk yang ada,
lalu menilai apakah tahan bersama dia seterusnya.

Tuhanku,
Bimbinglah aku untuk trus belajar melihat kedepan,
ketika yang perlu bukan lagi pacar yang kasmaran,
melainkan dua insan yang setiawan,
berjiwa tanggung jawab, pengorbanan dan pengabdian.

Cinta dewasa menuntut aku untuk mawas diri,
apakah kualitas, kepribadian itu ada pada diri sendiri,
apakah aku mampu memberi diri,
bukan cuma minta dilayani melainkan mau melayani.

Cinta monyet memang mudah,
namun cinta dewasa sungguh susah,
karena itu aku sering merasa gelisah.

Tolonglah aku mempercayakan diri dan berpasrah
bahwa Tuhan besertaku bertumbuh ke masa cerah.

Dampingilah aku bertumbuh ke kedewasaan,
Matangkan diriku untuk berperilaku kemitraan,
Tolong aku nanti membuat pilihan,
Tolong aku berkembang agar ada yang membuat aku jadi pilihan.

Aku belum tahu siapa jodohku untuk berpasangan,
tetapi kupercaya bahwa seseorang sudah Kau tentukan,
namun ia masih sedang Kausiapkan, Kaumatangkan dan Kaudewasakan.

Sebab itu, pada pengaturan-Mu kupercayakan diri,
Engkau punya maksud indah dengan masa depan setiap pribadi,
sehingga pergumulan hidup bukan kami hadapi seorang diri,
melainkan bersama Engkau, Tuhan, teman hidup sejati.


Untuk para jomblo ...
sumber: milis e-ketawa

17 Maret 2009

Teladan Bisnis Rasulullah

Hampir tak terasa sudah lebih dari satu minggu kita memperingati Maulid Nabi besar Muhammad saw. Peristiwa bersejarah itu sudah berlalu seakan tidak ada hubungan sama sekali dengan perekonomian dan kinerja pembangunan kita. Karena memang, menurut sebahagian orang, apa kaitan antara Rasul dengan ekonomi, bisnis, atau manajemen? Lebih dari itu ada yang beranggapan bahwa ajaran nabi Muhammad saw adalah sebagai faktor penghambat pembangunan ekonomi dan aktivitas bisnis modern.

Tulisan ini mencoba mengemukakan bahwa Rasulullah saw telah memberikan contoh pola bisnis yang luhur. Beliau mencontohkan bahwa kepercayaan (trust) adalah modal yang paling berharga dalam usaha. Bisnis harus dijalankan dengan value driven yang bermanfaat untuk semua stake holders, dan harus gesit dalam melakukan positioning di pasar global. Ia bukan jago kandang seraya meminta proteksi cukai dan tax holiday. Dalam tataran individu Rasul juga menganjurkan untuk menjadi wiraswastawan tangguh dan manajer tepercaya.

Karier bisnis
Mengkaji pribadi Muhammad saw, kita akan mendapatkan jiwa entrepreneurship beliau sudah dipupuk sejak usia 12 tahun tatkala pamannya Abu Thalib mengajak melakukan perjalanan bisnis ke Syam, negeri meliputi: Syria, Jordan, dan Lebanon saat ini. Demikian juga sebagai seorang yatim piatu yang tumbuh besar bersama pamannya, beliau telah ditempa untuk tumbuh sebagai seorang wirausahawan yang mendiri. Maka ketika pamannya tidak bisa lagi terjun langsung menangani usaha, pada usia 17 tahun Muhammad saw telah diserahi wewenang penuh untuk mengurusi seluruh bisnis pamannya. Dari usia 17 hingga sekitar 20 tahun adalah masa tersulit dalam perjalanan bisnis Rasul karena beliau harus mandiri dan bersaing dengan pemain pemain senior dalam perdagangan regional.

Usia 20 hingga 25 tahun merupakan titik keemasan entrepreneurship Muhammad saw terbukti dengan terpincutnya hati perempuan konglomerat Makkah Khadijah Binti Khuwalaid yang meminangnya untuk menjadi suami. Setelah mendapatkan back-up financial yang lebih mapan dari sang istri, sepak terjang bisnis Muhammad saw semakin meroket saja.

Afzalurrahman dalam bukunya Muhammad as A trader mencatat bahwa Nabi Muhammad sering terlibat dalam perjalanan bisnis ke berbagai negeri seperti Yaman, Oman, dan Bahrain. Beliau mulai mengurangi kegiatan bisnisnya ketika mencapai usia 37 tahun. Dari Usia ini ke 40 tahun beliau lebih banyak terlibat dalam perenungan perbaikan masalah sosial masyarakat sekitarnya yang jahiliyah.

Keterampilan bisnis mempengaruhi hukum bisnis
Untuk keakuratan dalam mengamati perjalanan bisnis dan dakwah Rasulullah ada baiknya kita perhatikan table diatas. Dari sederhana ini ada dua hal yang patut kita cermati. Pertama, waktu atau umur yang dihabiskan Rasulullah saw untuk bisnis ternyata lebih panjang dari umur kenabiannya atau 25 tahun berbanding 23 tahun. Kedua, Umur bisnis ditambah "masa kepedulian sosial" yang jumlahnya sekitar 28 tahun membentuk suatu business skill yang sangat penting bagi proses pengambilan hukum hukum perdata dan komersial kelak kemudian ketika telah menjadi Rasul.

Pasar global
Untuk lebih detailnya mencermati visi dan strategi bisnis Rasulullah ada baiknya kita kaji dengan seksama pasar pasar regional yang sering kali dikunjungi Rasul dari bulan ke bulan dalam siklus pameran dagang regional dan global saat itu.

Dari sirah tampak jelas bahwa Muhammad saw adalah pemain bisnis yang tangguh yang senantiasa alert dengan pasar pasar regional yang harus dikunjungi. Beliau menjemput bola, memperluas jaringan, mencari produk terkini dan mencari mitra strategis diberbagai kawasan dagang dan industri.

Value driven business
Sebagai seorang calon rasul, Muhammad saw telah menunjukkan keluhuran akhlak sejak usia belia, dan ini ia terapkan dalam dunia bisnis. Oleh karena itu, ia terkenal dengan julukan al-Amin atau Mr Clean. Setelah menjadi rasul, Muhammad saw dianugerahi sifat sifat yang mulia yang sangat kita butuhkan dalam dunia bisnis dan ekonomi. Terapan dari sifat sifat tersebut dapat kita rangkum sebagai berikut:

Dari business skills ke business laws
Mungkin ada sebagian yang berpendapat bahwa pengalaman dan teladan bisnis Muhammad sebagian besar terjadi dan dilakukan jauh sebelum beliau diangkat menjadi Rasul. Oleh karena itu teladan teladan bisnisnya belum menjadi sunnah bagi kita. Pendapat ini akan kehilangan pijakannya seadainya kita menelaah hukum dan sabda sabda Rasul yang berkaitan dengan bisnis dan ekonomi. Sangat jelas sekali bahwa kejelasan Rasul dalam memutuskan masalah bisnis dan ekonomi sangat banyak dipengaruhi oleh kepiawaian dan intuisi bisnis masa mudanya. Tak ubahnya kalau kita membandingkan antara seorang bupati yang pernah menjadi panglima teritorial militer dan bupati yang berlatar belakang guru SLTA semata. Maka mantan panglima teritorial akan mengetahui daerah territorial dan bentuk bentuk kriminal daerah lebih tajam dari seorang pengajar sebuah SLTA. Oleh karena itu business laws rasul yang sifatnya ijtihadi sangat banyak dipengaruhi oleh pengalaman bisnis masa mudanya.

Sebagai penutup, semoga saja kita bangsa Indonesia yang kini sedang terpuruk dalam semua sisi dapat menjadikan momentum maulid tidak terbatas kepada ritual dan seremonial semata. Tetapi lebih dari itu mampu menginternalisasikan nilai nilai luhur profetik ke dalam kejujuran bisnis dan demokratisasi pembangunan ekonomi. Amien.


Oleh : MUHAMMAD SYAFI'I ANTONIO , www.republika.co.id

Kisah Sebuah Mimpi

Suatu ketika, seorang muda menemukan dirinya tertidur di atas sajadah shalat malamnya. Gelap belum beranjak dari lubuknya dan ia berniat pindah ke peraduan. Anehnya, ruang itu kosong. Entah di mana itu tempat tidur, meja kerja, komputer, dan lemari pakaiannya. Ia ingat bahwa sebelum shalat, ia tengah berada dalam saat-saat tergelap dalam hidupnya. Ada catatan tentang timbangan yang dikurangi, lipatan persahabatan yang digunting, dan sebungkus cinta yang ternyata cuma setengah, hampir dalam satu waktu. Sebelum shalat, ia sempat berandai kepada Tuhan, jika saja ia bisa tidur dengan tenang dan tidak bangun lagi.

Tetapi, ia bangun lagi, kedinginan dalam ruang kosong. Dibukanya pintu kamar dan di hadapannya terbentang sebuah lorong. Hanya satu pintu tertutup tampak di ujungnya.

"Tuhan, saya cuma ingin minum air hangat," batinnya. "Dan saya tidak suka film horor."

Dilihatnya sebuah kendi tergeletak dipenuhi air dingin yang menetes dari eternit. Diambilnya kendi itu dan ia berharap, di balik pintu nun di ujung lorong, ada perapian tempatnya bisa menjerang air.

Setiap ia melangkah, pintu itu menjauh satu tindak. Tetapi, setiap ia berhenti, dingin lantai makin menusuk telapak kakinya seperti duri. Tak ada pilihan selain berjalan. Padahal, pintu itu menjauh terus dan terus.

"Tuhan, saya ingin sampai," keluhnya. Dan pintu itu justru menjauh beberapa tindak.

Kakinya menjejak lantai dan dingin lantai memaksanya berjalan. Pintu itu terus menjauh hingga letih ia berharap. Dan air dalam kendi itu ada dalam dekapan tetapi ia tidak mungkin meminumnya. Akhirnya, anak muda itu bergumam, "Tuhan, saya tidak menginginkan apa-apa lagi. Kau Maha Tahu dan itu cukup."

Tahukah Anda, di mana kemudian anak muda itu menemukan dirinya? Berada hanya beberapa centi di depan pintu. Ketika hamdalah meluncur spontan dari mulutnya, pintu itu terbuka dengan sendirinya, menampakkan sebuah ruang luas bersiram cahaya hangat, dengan rak-rak buku memenuhi dinding.

Seorang berpakaian putih yang telah dikenalnya entah di mana, sedang duduk di hadapan sebuah buku. Dihampirinya orang itu dan orang itu pun mengangkat dagunya.

"Ini bukumu. Buku tentang dirimu. Mau baca?"

Anak muda itu tertegun sejenak. Tiba-tiba ia sadar bahwa ia sudah lupa cara berkemauan atau berkeinginan.
"Entahlah. Tetapi saya merasa... sedang membaca."

Orang di hadapannya itu pun tersenyum dengan amat indah.
"Apa yang sedang kamu baca?"
"Perjalanan diri saya yang saya ingat: sebuah proses penyadaran. Bahwa saya merasa terjerat dalam perlakuan tidak adil, dan saya tetap tidak ingin teraniaya. Tetapi, saya masih memiliki kebebasan untuk mempersepsi Tuhan, dan saya memilih untuk berkeyakinan bahwa Ia Maha Tahu kesakitan saya, dan itu cukup."

"Mengapa cukup?" tanya orang itu lagi.
"Karena saya percaya, bahwa bagaimanapun... Tuhan Maha Baik..." dan suara anak muda itu pun memarau.
"Kamu capai dan di sini tempat istirahmu. Minumlah," hibur orang itu akhirnya, penuh kasih-sayang.
"Tetapi, hanya ada air dingin mentah..."
"Perhatikan. Air itu sudah menjadi hangat dan matang dalam dekapanmu."

Dan anak muda itu terbangun, di atas sajadahnya, di dalam kamarnya yang lengkap seperti sediakala. Ternyata, ia baru bermimpi: memasuki lorong dirinya, membaca buku tentang qadar-nya, dan menghirup air yang telah hangat dan matang dengan sendirinya. Dari khazanah pengetahuan sufistik, ia tahu bahwa air adalah simbol keikhlasan.

Hanya satu pertanyaan tersisa: mengapa air itu bisa hangat dan matang dengan sendirinya? 

Oleh Miranda Risang Ayu, www.republika.co.id