19 Agustus 2009

Ketika Matahari Sya'ban Tenggelam

Apakah yang hadir ketika matahari sore terakhir bulan Sya'ban tergelincir? Hanya kegelapan malamkah?

Mungkin kita termasuk Muslim yang melihatnya sebagai malam yang secara natural tidak berbeda dengan malam-malam sebelumnya, kecuali bahwa pada sepertiga bagian akhirnya kita harus melawan kantuk untuk bersahur. Untuk mengantisipasi keletihan ekstra karena harus bangun malam dan berpuasa, Muslim yang menghikmati malam pertama Ramadhan dengan cara ini biasanya bersiap untuk terlibat dalam berbagai aktivitas yang bermanfaat sekaligus menghibur, untuk, paling tidak, mengalihkan konsentrasi dari keringnya kerongkongan hingga beduk berbuka berkumandang.

Atau, kita termasuk orang-orang yang tengah dipacu semangat kebenaran Islam, sehingga melihatnya sebagai malam yang seharusnya bercahaya. Malam itu haruslah diterangi oleh cahaya yang memancar dari dahi para peshalat tarawih, cahaya bulir-bulir tasbih yang dipilin dan cahaya pengetahuan dari ayat-ayat suci yang digemakan. Karenanya, malam itu adalah malam pertama ketika semua keharusan agama sedapat mungkin mulai dilaksanakan dan digenapkan. Malam itu adalah awal malam-malam penuh keharusan yang menantang sekaligus menggairahkan.

Uniknya, ada sebagian orang yang konon justru menemukan bahwa bersamaan dengan tergelincirnya matahari Sya'ban terakhir, dirinya juga tersungkur dalam keharuan tak terpikir. Sya'ban laksana bulan kritis ketika semua kelemahan telah begitu memberatkan kesadaran, tetapi harapan akan hadirnya Ramadhan pun telah matang. Maka, berbeda dengan kebanyakan orang, orang-orang ini justru merasa bahwa Ramadhan adalah bulan yang mengharu-biru oleh berkah. Ketika tak ada air menyegarkan kerongkongan, justru memancar air kemurahan-Nya dalam lubuk hati, mewartakan beningnya keikhlasan. Ketika tidak ada makanan mengencangkan persendian, bertaburan cahaya ilahiyah yang mengubah kerontang tengah hari menjadi hangatnya hati yang jingga oleh kerinduan kepada-Nya. Malam inipun menjadi malam awal yang penuh dengan gelegak puji dan derai air mata haru, yang semakin hari semakin tak terbahasakan, dan membekaskan kerinduan yang dalam ketika bulan itu akan berakhir.

Adakah orang-orang yang memasuki Ramadhan dengan kesahajaan orang-orang biasa, tetapi diam-diam, napasnya melantun bersama gemuruh tasbih yang cuma Tuhan yang tahu; dan masya Allah, ia sadar sesadar-sadarnya bahwa ia sedang menjadi bagian dari tasbih itu? Ketika kesedihan dan kegembiraan, perlahan tetapi pasti, memisahkan diri seperti baju, dan dirinya telanjang tak beraurat di hadapan tatapan-Nya Yang Maha Agung? Mungkinkah ada orang-orang yang tidak lagi merasakan keletihan, semangat, keharuan, atau apa pun lagi selain rasa abadi bersama-Nya yang diteguhkan, yang telah lama dikenalnya?

Jika ada, debu terompah mereka pun pasti telah terpapar oleh cahaya keabadian. Dan sungguh, saya ingin mendapatkan debu itu sebutir saja, bagi malam yang jerih, yang telah tahunan menyaput hati saya.



Oleh: Miranda Risang Ayu
www.republika.co.id

Kebangsaan

"Merah putih teruslah kau berkibar
Di ujung tiang tertinggi,
di Indonesiaku ini"(lagu 'Bendera' pencipta Erros/So7)

Selalu ada saat yang membuat kita terharu di hari-hari seperti sekarang. Mungkin saat itu kita sedang melihat pengasong tengah menawarkan merah-putih kecil dagangannya. Siang menyengat, debu mengepul, dan ia terpanggang oleh keduanya. Tapi, ia tetap antusias menjual bendera itu. Saat lainnya mungkin ketika kita melihat anak-anak TK tersenyum lebar di karnaval dengan pakaian nasionalnya. Atau, saat kita menyimak lirik lagu yang dinyanyikan Kikan Cokelat dengan suara khasnya itu.

Saat-saat demikian terasa begitu menenteramkan. Ada rasa lega yang menyejukkan dada. Yakni, bahwa rasa kebangsaan masih ada di tengah-tengah kita. Rasa kebangsaan itu dengan mudah kita temui hampir di setiap RT di seluruh negeri ini. Merah putih, umbul-umbul, lomba-lomba, dan puluhan bentuk kemeriahaan lain tetap menjadi warna bangsa ini. Warna-warna itu melekat kuat di hati sebagian besar rakyat.
Pertanyaannya kemudian: mampukah rasa kebangsaan itu mengangkat bangsa kita ke jenjang peradaban yang lebih terhormat di percaturan bangsa-bangsa?
Semestinya ya. Semua bangsa maju di dunia selalu tumbuh dengan akar kebangsaan kuat. Rasa sepenanggungan para imigran Eropa di Amerika telah menggumpal menjadi rasa kebangsaan yang kental. Dengan itulah Amerika dapat menjadikan diri sebagai penguasa dunia. Kebangsaan yang berakar panjang dalam sejarah peradaban Jepang telah membangkitkan bangsa itu dari luluh lantak akibat perang menjadi salah satu bangsa termaju di dunia. Rasa kebangsaan yang diekspresikan sebagai tekad tak mau kalah dari tetangga mendorong Korea Selatan membalik statusnya dari negara miskin menjadi salah satu bangsa paling sentosa di Asia.

Kebangsaan juga menjadi kunci bangkit Cina, India, hingga Thailand. Kesadaran sebagai bangsa besar membuat Cina mampu gagah melangkah di jalannya sendiri. Pilihannya itu terbukti mampu membuatnya menjadi salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia. Kebangsaan membuat anak-anak bangsa India menguasai kehidupan ekonomi di tanah airnya sendiri, juga mengendalikan bursa tenaga kerja papan atas dunia. Kebangsaan bahkan telah mengangkat tetangga kita, Thailand, menjadi negara yang paling diminati warga Eropa untuk dikunjungi. Juga telah menyulap negara itu sebagai salah satu produsen mobil terpenting di dunia. Sebagian besar mobil baru merek Jepang yang memenuhi pasar kita adalah hasil produksi Thailand.
Pada bangsa kita, rasa kebangsaan itu telah menghasilkan apa selain kemeriahan perayaan 17 Agustusan di kampung-kampung? Apa sebenarnya wujud kebangsaan yang kita punyai? Sungguh punyakah kita rasa kebangsaan?
Sutan Takdir Alisjahbana berkeliling ke berbagai negara buat merumuskan format yang pas tentang kebangsaan kita. Ia mencoba menggelindingkan dialektika serupa yang berlangsung di Jepang zaman Restorasi Meiji. Soekarno telah mengekspresikan sikap kebangsaan dalam retorika maupun langkah politik. Hatta telah menyisihkan waktu bertahun-tahun untuk dapat menerjemahkan sikap kebangsaan dalam sistem ekonomi dan demokrasi. Kita bukan melanjutkan kerja besar itu, tapi cenderung memorak-porandakannya.

Kita cenderung tidak menghargai saudara serta milik kita sendiri. Kita gampang terkagum-kagum pada 'orang lain'. Kita menggandrungi atribut-atribut asing. Gerai waralaba makanan cepat saji yang dipandang prestisius adalah berlabel asing. Atau, setidaknya berkonotasi asing.

Duta budaya kita lewat sinetron atau lainnya yang kita hargai adalah yang berwajah dengan nuansa asing. Kita tidak peduli, kalaupun tidak malah menjauhi, produk elektronik yang berkandungan lokal tinggi. Kita merasa gengsi bila menggunakan merek dan produk yang lebih asing. Kita bahkan bersikap lebih ramah, lebih percaya, bahkan siap membayar lebih mahal pada asing dibanding pada saudara sebangsa sendiri.

Mungkinkah suatu bangsa dengan kualitas kebangsaan seperti ini dapat berjaya? Akal sehat maupun realitas jelas menjawab, "Tidak." Bangsa yang maju adalah bangsa yang berani mengibarkan benderanya sendiri di ujung tiang yang tinggi kehidupan sehari-hari tanpa kecuali.



Zaim Uchrowi , dalam www.Republika.co.id

18 Agustus 2009

It’s Only Love

Perempuan itu memegang erat tangan saya. Napasnya mulai tersengal. Satu-satu. “Dokter,” ia memanggil terbata-bata. Helaan selanjutnya ia berhenti, ia tak mampu melanjutkan. Hanya memegang tangan saya. Saya mengetuk-ngetuk dadanya yang tirus, mengganggunya dengan stetoskop yang mulai afkir. Saya pandangi perempuan muda di sampingnya. Setelah saya lepas semua perkakas, ia bertanya, “Ibu bagaimana?” Tekanan darahnya terus turun. Perlahan, tapi pasti. Hasil analisis gas darahnya pun memburuk.

Kami putuskan memberikan dopamine dan dobutamin, sekaligus tambahan oksigen lewat sungkup. Saya awasi hampir lima belas menit sekali. Itu titah senior, kalau tak boleh dibilang sabda. Saya menurut tunduk perintahnya yang tanpa amarah sama sekali. “Dik, tolong ya,” begitu rayunya suatu kali. Dalam tatapannya saya melihat rona pesimis yang teramat dalam. Begitu pun setiap kali saya masuk ruangan. Suaminya hanya menunduk pasrah di samping sambil memegang tangan si ibu. Berkali-kali ia bertanya, “Bagaimana, Dok?” Helaan napas itu pun bergilir. Saya tak mampu menjawab dengan sempurna.

Satu hari saya lewati semua rutinitas. Datang ke kamarnya menjinjing sfigmomanometer dengan stetoskop yang melingkar di leher, menyapa sang bapak, lalu memeriksa dengan tatapan kemudian yang hampir pasti: memburuk. Tapi, si ibu memang bertahan. Lebih lama dari perkiraan kami. Tumor yang semula hanya bersemayam di organ kandungannya kini menyebar ke paru-parunya, membentuk lesi serupa koin yang tersebar dalam foto rontgen. Gerakannya makin lemah, napasnya makin tersengal. Hari kedua, ia tak lagi mendengar panggilan saya. Hanya membuka mata jika saya menepuk-nepuk pundaknya.

“Bapaknya nggak mau diperiksa lagi.” Senior saya masuk ruangan. Wajahnya hampir lusuh. Saya tahu pasiennya terlalu banyak untuk diurus. Maka kehadiran kami adalah anugerah baginya. Memeriksa pasien mereka, membantu menulisnya di rekam medik, hingga menindaklanjuti semua pengobatan dan pemeriksaan yang harus dilakukan. “Mau bagaimana lagi?” Dia melanjutkan tanpa gairah. Saya keluar ruangan, melirik sebentar ke arah kamar yang hampir lima belas menit sekali itu saya datangi. Ada si suami. Memanggil-manggil saya sambil berbisik dengan nyaris sempurna.

“Harus diperiksa lagi?” tanyanya. Saya hanya bilang, untuk kebaikan ibu. Tapi, ia menolak. Toh, akhirnya hari kedua berlalu dengan aman. Tak ada isak tangis, kecuali dari kerabat yang baru datang dan melihat kondisinya.

Sampai akhirnya saya mendengar isak tangis yang mulai bergemuruh di hari ketiga. Ada bacaan Yasin yang menggelora dari dua wanita saat saya masuk ke ruangannya. Saya tatap mata sang suami yang semakin nanar. Sejak itu saya paham betapa rumitnya mempersiapkan rasa kehilangan agar ia terasa tak membebat dada. Sejak saat itu pula saya mengerti sulitnya menumbuhkan keikhlasan untuk dapat dengan sempurna melepas kepergiaan seseorang yang dicintainya.

Lebih dari dua puluh lima tahun mereka terikat dalam sebuah pernikahan. Anak-anaknya telah beranjak dewasa, membangun mahligai pernikahan yang dulu juga pernah mereka susun. Tanpa disebutkan pun, saya tahu sudah terlampau banyak liku yang mereka hadapi dan lalui. Bersama. Dengan mulus atau pertikaian terlebih dahulu. Betapapun, sehebat apapun pertengkaran yang pernah mereka lewati di dalam rumah, saya tak menemuinya di ruangan ini. Hanya ada cinta yang bertebaran. Dalam genggaman tangannya. Erat mereka bergenggaman. Dalam senyumannya yang dipaksakan terus manis dalam kesakitannya. Dalam air mata yang tiba-tiba saja menetes ke punggung tangan saya. Saya melihat itu. Saya menyaksikan betapa cinta menembus segala rasa sakit.

“Dokter…” Saya masih ingat dengan jernih panggilannya saat terakhir kali saya mendengar suaranya. Setelah itu saya hanya melihat dirinya yang terpejam dan tersengal. Hingga akhirnya tangis pecah juga. Menebarkan cinta ke seluruh penjuru rumah sakit.

Saya baru selesai diskusi saat itu sampai kemudian si suami menemui saya dan menggenggam tangan saya. Erat. Erat sekali. Berterima kasih berkali-kali bahwa saya begitu telaten merawat istrinya. Berterima kasih betapa saya begitu serius menjawab segala pertanyaannya. Lalu, meminta maaf sejadi-jadinya. “Maaf, Dokter. Bukan saya marah waktu itu. Saya menolak pemeriksaan selanjutnya karena saya merasa Izrail sudah datang. Keluar masuk kamar ini.” Setelah itu, yang hadir adalah tetesan air mata yang jatuh satu per satu.

“Dokter mungkin tak melihat, tapi saya merasakan.” Kalimat itu yang membuat air mata saya ikut menggenang. Saya tak pernah temui pelajaran ini di kelas. Mengikuti cinta yang begitu mendalam hingga mampu merasakan kehadiran yang tak pernah dirasakan hati yang tak diselimuti cinta. Betapa saya merunduk waktu itu. Cinta bukan sekadar soal memiliki, tapi kerelaan untuk melepas. Cinta tak hanya berputar pada kata-kata, tapi pada kedalaman ikatan rasa.

i try to remember
it’s only love
we had to surrender
there’s no more us
the world keeps on turning
and i carry on
the dream of another you
the song that i hold on to*

Semua orang menginginkan kematian yang sempurna. Saat semua amal telah diliputi keikhlasan yang sejati. Saat penghambaan tak menemui rasa pamrihnya. Saat kepergiannya disertai kerelaan orang-orang yang dicintainya –meski sakitnya lebih dari 300 tusukan pedang, kata Ali ra. Tapi, setiap orang memang memiliki jalannya masing-masing. Jalan yang ia pilih di saat napasnya masih spontan dan kuat, saat matanya masih membelalak, saat senyumnya masih mengembang, saat cintanya masih bertebaran.

Kamar itu saya masuki lagi. Berdoa, lantas memegang pundak si suami. Semoga kesabaran meliputinya.

Beribu teori kematian masuk ke otak saya. Mati klinis, mati batang otak. Ribuan ayat saya baca dan hafal. Hanya satu kejadian yang membuat semuanya luluh untuk kembali ingat kepada kekuasaanNya. Meraba-raba, jangan-jangan Izrail mengintip setiap malam di lubang ventilasi kamar saya. Lalu, saya menangis. Berdoa sejadi-jadinya.

* Michael Learns to Rock. It’s Only Love.
Jakarta, Agustus 2009


Oleh farranasir - 18 Augustus 2009 -

14 Agustus 2009

Bagaimana Menyambut Ramadhan?

Agar puasa Ramadhan dapat dikerjakan dengan sempuma dan mendapatkan pahala dari Allah SWT, maka hendaknya melakukan hal-hal berikut:

1. Mempersiapkan jasmani dan rohani, mental spiritual seperti membersihkan lingkungan, badan, pikiran dan hati dengan memperbanyak permohonan ampun kepada Allah SWT dan minta maaf kepada sesama manusia.

2. Menyambut bulan suci Ramadhan dengan rasa senang dan gembira karena akan meraih kebajikan yang berlipat ganda.

3. Meluruskan niat yang tulus ikhlas, hanya ingin mendapat ridha Allah SWT. Karena setan tidak akan mampu mengganggu orang yang tulus ikhlas dalam ibadah. Sebagaimana firman Allah dalam surat al­-Hijr ayat 39-40:

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الأَرْضِ وَلأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ. إِلاَّ عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Iblis berkata: Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma'siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya. Kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka. (QS Al-Hijr: 39-40)

4. Berpuasa dengan penuh sabar untuk melatih fisik dan mental, karena kesabaran itu akan mendapat pahala yang sangat banyak. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas. (QS Az-­Zumar: 10)

5. Segera berbuka jika waktunya sudah tiba dan, mengakhirkan makan sahur. Rasulullah SAW bersabda:

لَا تَزَالُ أُمَّتِيْ بِخَيْرٍ مَا أَخَرُّوْا السَّحُوْرَ وَعَجَّلُوْا اْلفِطْرَ
Umatku senantiasa berada dalam kebaikan jika mereka menyegerakan buka dan mengakhirkan sahur. (HR Ahmad).

6. Berdoa waktu berbuka.
Rasulullah SAW selalu berdoa ketika berbuka puasa, dengan membaca doa:

اَللَّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أفْطَرْتُ
Ya Allah, Aku berpuasa hanya untuk­Mu dan dengan rizki-Mu aku berbuka. (HR. Abu Dawud)

ذَهَبَ الظَّمَاءُ وَابْتَلَّتْ العُرُوْقُ وَثَبَتَ اْلأجْرُ إنْ شَاءَ اللهُ
Hilanglah rasa haus, tenggorakan menjadi basah, semoga pahala ditetapkan, Insya Allah. (HR Abu Dawud)

7. Berbuka dengan kurma, atau air. Rasulullah SAW bersabda:

كَانَ رَسُوْْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْتِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أنْ يُصَلِّيَ فَإنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتُ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاةٍ مِنْ مَاءٍ
Rasulullah SAW berbuka puasa dengan kurma basah sebelum shalat maghrib, jika tidak ada maka dengan kurma kering, dan jika tidak ada maka berbuka dengan beberapa teguk air. (HR Abu Dawud)

8. Bersedekah sebanyak-banyaknya. Karena sedekah yang paling baik adalah pada bulan Ramadhan.

9. Memperbanyak membaca Al-Qur’an, menghayati dan mengamalkannya, sebagaimana Rasulullah SAW setiap bulan didatangi Malaikat Jibril untuk mengajarkan Al­Qur'an. Al-Qur'an yang dibaca pada bulan Ramadhan akan memberi syafaat kepada pembacanya kelak di hari kiamat.


10. Meninggalkan kata-kata kotor dan tidak bermanfaat, karena akan menghilangkan pahala puasa. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّهِ حَاجَةٌ فَيْ أنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Siapa saja (selagi puasa) tidak meninggalkan kata-kata dusta dan melakukan berbuat tidak bermanfaat, maka tidak ada artinya disisi Allah, walau dia tidak makan atau minum. (HR Bukhari)

11. Tidak bermalas-malasan dalam semua aktivitas dengan alasan berpuasa, karena puasa bukan menghambat aktivitas dan produkvitas justru meningkatkan prestasi.

12. I'tikaf di masjid terutama pada 10 hari akhir bulan Ramadhan. Rasulullah SAW membiasakan I'tikaf pada sepuluh hari terakhir tiap bulan Ramadhan. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

أنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Nabi SAW selalu I'tikaf pada 10 hari terakhir bula Ramadhan hingga beliau wafat, kemudian istri-istri beliau juga beri’tikaf setelahnya. (HR Bukhari)

13. Memperbanyak ibadah, shalat malam dengan mengajak keluarga untuk ibadah malam.

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إذَا دَخَلَ العَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأحْياَ لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ
Apabila memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah SAW lebih giat ibadah, menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya. (HR Bukhari)

14. Bagi yang mampu dianjurkan untuk Umrah dibulan Ramadhan, karena pahala-nya seperti berhaji.

15. Memperbanyak membaca Tasbih, karena sekali tasbih dibulan Ramadhan lebih baik dari seribu tasbih diluar Ramadhan. Rasulullah SAW bersabda:

تَسْبِيْحَةٌ فِيْ رَمَضَانَ أَفْضَلُ مِنْ ألْفِ تَسْبِيْحَةٍ فِيْ غَيْرِهِ
Sekali membaca tasbih dibulan Ramadhan lebih baik dari 1000 kali tasbih di luar bulan Ramadhan. (HR Tirmidzi)

Hal-Hal yang Makruh Ketika Puasa
Beberapa hal berikut tidak membatalkan puasa tetapi bisa membatalkan puasa jika tidak berhati-hati, yaitu:
1. Berlebihan dalam berkumur dan menghisap air ke hidung ketika wudhu.
2. Berciuman dengan istri, karena dikhawatirkan membangkitkan syahwat.
3. Mencicipi makanan, karena dikhawatirkan akan tertelan.
4. Berbekam (cantuk), dikhawatirkan membuat badan lemah.
5. Memandang istri dengan syahwat.
6. Menggosok gigi dengan berlebihan, dikhawatirkan akan tertelan.
7. Tidur sepanjang hari.


Hal-Hal yang Boleh Dikerjakan Ketika Puasa
Berikut ini boleh dikerjakan oleh orang yang sedang puasa:

1. Bersiwak
2. Berobat dengan obat yang halal dengan syarat tidak memasukkan sesuatu ke dalam lubang-lubang rongga badan, seperti boleh menggunakan jarum suntik asal tidak memasukkan gizi makanan.
3. Memakai minyak wangi, minyak angin atau balsem.
4. Melakukan perjalan jauh, walaupun akan membatalkan puasanya.
5. Mendinginkan badan dengan air ketika udara sangat panas.
6. Memasukkan oksigen.
7. Memasukkan alat-alat kedokteran tapi bukan tujuan mengenyangkan.
8. Menggauli istri pada malam hari, berdasarkan firman Allah SWT:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari, bulan puasa bercampur dengan isteri­-isteri kamu... (QS. Al-Baqarah: 187)


KH. A Nuril Huda
Ketua PP Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

31 Juli 2009

Hebatnya Huruf T

Tatkala Temperatur Terik Terbakar Terus, Tukang Tempe Tetap Tabah, "Tempe-tempe" , Teriaknya. Ternyata Teriakan Tukang Tempe Tadi Terdengar Tukang Tahu, Terpaksa Teriakannya Tambah Tinggi, "Tahu...Tahu. ..Tahu... !"

"Tempenya Terbaik, Tempenya Terenak, Tempenya Terkenal!!", Timpal Tukang Tempe .

Tukang Tahu Tidak Terima,"Tempenya Tengik, Tempenya Tawar, Tempenya Terjelek.... !" Tukang Tempe Tertegun, Terhenyak, "Teplakkk... !" Tamparannya Tepat Terkena Tukang Tahu.

Tapi Tukang Tahu Tidak Terkalahkan, Tendangannya Tepat Terkena Tulang Tungkai Tukang Tempe . Tukang Tempe Terjengkang Tumbang! Tapi Terus Tegak, Tatapannya Terhunus Tajam Terhadap Tukang Tahu. Tetapi, Tukang Tahu Tidak Terpengaruh Tatapan Tajam Tukang Tempe Tersebut, "Tidak Takut!!" Tantang Tukang Tahu.

Tidak Ternyana Tangan Tukang Tempe Terkepal, Tinjunya Terarah, Terus Tonjokkannya Tepat Terkena Tukang Tahu, Tak Terelakkan! Tujuh Tempat Terkena Tinjunya, Tonjokan Terakhir Tepat Terkena Telak. Tukang Tahu Terjerembab."Tolong.. Tolong.. Tolong..!", Teriaknya Terdengar Tinggi. Tetapi Tanpa Tunda Tempo, Tukang Tempe Teruskan Teriakannya, " Tempe .. Tempe .. Tempe ..!!" Tukang Tahu Tambah Teriak Tararahu.. Tararahu, Tandingin Tararempe.. Tararempe.. Tape Teh...


Sumber: Milis e-ketawa

22 April 2009

Emak ku Bukan Kartini

Emakku bukan Kartini. Dia hanya anak seorang petani kelapa. Istri seorang petani kelapa pula. Sampai akhir hayatnya dia buta huruf latin (bisa membaca huruf Arab). Dia tak sekolah bukan karena tak hendak. Dia tak sekolah karena berbagai kombinasi yang tak menguntungkannya.

Suatu hari di kampung kedatangan ustaz dari desa lain. Ada pengajian kecil, mempelajari sifat dua puluh. Emak, ketika itu seorang gadis kecil, ingin ikut serta belajar. Tapi ia dihardik ayahnya. "Kau bukan anak perempuan yang patut untuk menjadi cendekia." Emak hanya bisa menangis.

Tapi Emak tak pernah mengeluh. Pun ia tak melawan. Ia hanya menunggu datangnya sesuatu: Kebebasan.

Yang ia tunggu itu datang kemudian, saat ia menikah. Ayah ketika itu adalah seorang buruh tani. Kerjanya memanjat kelapa milik orang, mengumpukannya ke suatu tempat hingga siap dijual. Ia sepertinya puas dengan upah yang dia terima. Tapi Emak tidak. Ia sudah melihat banyak kehidupan buruh tani. Sampai tua mereka tetap miskin.

Maka ia paksa Ayah untuk pindah kampung. Hijrah. Ini adalah titik tolak baru dalam sejarah hidup Emak. Ia pindah ke kampung baru. Di kampung itu masih tersedia lahan yang bisa dibuka. Hanya perlu tenaga untuk menebang pohon.

Bersama Ayah, dia memulai hidup pengantin barunya di sebuah gubuk, menumpang di tanah paman jauhnya. Salah satu tiang gubuk itu adalah batang bohon hidup. Berdinding dan beratap daun nipah, berlantai belahan kayu nibung. Dari gubuk itulah nasibnya ia ubah.

***

Hari-hari selanjutnya adalah hari-hari kerja keras. Tak pernah Emak berfikir bahwa ia seorang perempuan, sehingga seharusnya beban kerjanya lebih ringan. Bersama Ayah ia mengayun kampak, menebang rimba untuk membuka lahan. Lahan itu kemudian menjadi ladang padi. Hasil panen padi adalah bekal makan selama setahun. Di lahan itu pula ia mulai menanam kelapa, membuat kebun.

Emak bekerja keras, lebih keras dari orang lain. Sore hari saat orang sudah rapih reriungan dengan keluarga, ia baru pulang dari ladang. Di gubuknya ia masih harus masak untuk makan malam.

Kerja keras itu berhasil. Bebeberapa tahun kemudian kelapanya sudah mulai menghasilkan. Tak banyak memang. Tapi setidaknya keluarga kami sudah punya masa depan. Seingatku ketika kemudian aku lahir sebagai anak ke delapan, keluarga kami bukan keluarga miskin buruh tani, tapi keluarga pemilik beberapa bidang kebun kelapa, meski bukan pula keluarga kaya.

***

Emak ingin belajar. Ia tak mengeluh ketika niatnya dihalangi. Ia pun tak menangisi kesempatan yang berlalu namun tak pernah dapat ia raih. Tapi ia tahu cara mengubah nasibnya. "Mereka bisa menghalangiku untuk belajar. Tapi tak seorangpun bisa menghalangi anak-anakku." begitu tekadnya. Saat abangku yang tertua memasuki usia sekolah, di kampung kami belum ada sekolah. Emak tak menyerah. Ia bersama ayah mengayuh sampan selama tiga hari. Tiga hari. Ke kampung pamannya, seorang lurah. Di situlah abangku dititipkan untuk bersekolah.

Itulah mulanya, lalu kami semua kakak beradik bisa bersekolah.

Sadar dengan tekad itu Ayah tergerak. Ia ajak orang kampung membangun sekolah. Ia datangkan guru dari kampung lain. Itulah sekolah yang kemudian mengubah nasib banyak orang di kampung kami.

***

Tak cukup bertani, Emak berdagang untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Dia beli pakaian, obat-obatan, apa saja yang laku dijual dari kota, ia jajakan berkeliling dari rumah ke rumah. Sambil belanja kebutuhan dagang ia bisa menengok anak-anaknya yang sekolah di kota. Di lain ketika Emak jadi perias pengantin. Berkeliling ke berbagai kampung, sambil tetap menjajakan dagangannya. Hingga akhirnya semua anaknya bisa sekolah tinggi.

Di hari tuanya Emak bisa beristirahat. Kami yang sudah bekerja bisa memberi dia makan, mencukupi kebutuhannya. Saat aku lulus sarjana, Emak bilang, "Kau bekerjalah di sini, di dekat Emak." Aku menurut. Tapi aku juga masih ingin sekolah. Saat kesempatan itu datang, Emak keberatan. Dia ingin aku tetap di sisinya. "Sudah cukuplah kau sekolah. Kau sudah jadi sarjana."

Aku bujuk Emak. "Mak. Ingat kan, dulu Emak bekerja mati-matian agar kami bisa sekolah. Sekarang ini saya dapat beasiswa. Artinya saya tidak perlu membayar untuk sekolah. Malah saya dibayar. Saya mengkhianati cita-cita Emak kalau saya tidak sekolah lagi." Akhirnya Emak mengalah, aku diijinkannya pergi.

Aku berangkat sekolah ke Malaysia. Tapi saat aku di Jakarta aku dengar Emak pingsan di kamarku saat membersihkannya. Kepergianku begitu melukainya.

Tapi Emak tak meratapi itu. Setelah aku, saudara-saudaraku yang lebih tua juga dapat kesempatan melanjutkan kuliah. Pernah suatu saat hanya ada abangku yang tertua di sisi Emak. Anak laki-lakinya yang lain pergi jauh.

Sedihkah Emak? "Sepi", katanya. "tapi sepi itu bisa Emak obati dengan rasa bangga."

***

Emakku bukan Kartini. Ia tak menulis surat, yang membuat orang lain bergerak. Ia bahkan tak bisa menulis. Tapi dengan tangannya, dia mengubah nasibnya. Nasib kami.

By: Sutan Paruik Gadang

15 April 2009

Terima Kasih, Istriku ...

Kemarin, tanggal 22 Februari, genap 20 tahun kami menikah. Sebuah angka yang belum apa-apa bagi banyak pasangan luar biasa. Mereka bisa merayakan 'kawin perak 25 tahun', 'kawin emas' 50 tahun, atau bahkan lebih. Buat mereka, pencapaian pernikahan 20 tahun tentu cuma pencapaian para pemula.

Namun bagi saya dan istri, (baru) 20 tahun pernikahan adalah karunia besar. Di generasi kami, tak banyak yang mampu melewati waktu sependek itu secara mulus. Sejumlah orang yang saya kenal baik gagal melanjutkan pernikahannya. Alasannya beragam. Padahal, banyak di antara mereka yang berpendidikan tinggi. Kadang pengetahuan agamanya juga tak diragukan. Kenapa begitu?

Sesekali saya dan istri mendiskusikannya. Kami sepakat: Penyebab tersering perceraian adalah selingkuh. Ketika salah satu pihak mulai mencederai komitmen awalnya dan berselingkuh, goyahlah sendi-sendi keluarga. Terutama bila selingkuh itu telah diwarnai hubungan seksual. Lewat pernikahan diam-diam, apalagi zina.

Tidak sedikit orang berselingkuh dan tidak merasa berdosa karena tidak berzina. "Kan cuma 'curhat', atau makan bareng," kilahnya. Tapi, sulit bagi penyelingkuh buat menyangkal bahwa curhat itu adalah kerikil yang ia tabur sendiri ke tengah jalan perkawinannya.

Kadang penyebab kandas perkawinan lebih sepele: "Sudah nggak cocok lagi!" Begitu ringan kalimat itu diucapkannya. Pasangan demikian, mungkin sangat berpengalaman berganti-ganti pacar sebelum menikah. Anak-anak sekarang biasa empat-lima kali ganti pacar sebelum menikah. Dalam pacaran, kalau ada masalah putus saja. Ngapain pusing.

Kebiasaan itu dibawa ke perkawinan. Buat mereka pernikahan begitu kasual: toh banyak yang saat menikah sudah tak perjaka dan perawan. Pernikahan cuma sedikit lebih sakral ketimbang pacaran. Saya bersyukur tidak masuk kategori 'anak sekarang' itu. Semoga anak-anak saya pun tidak masuk kategori itu.

Tapi, tak semua pasangan 'nggak cocok' memilih berpisah. Banyak pula yang memilih mempertahankan pernikahannya. "Awet rajet," begitu kata orang Sunda. Bertengkar melulu tapi terus bertahan. Alasannya beragam. Misalnya, demi anak. Dalam model keluarga begini, kita akan sibuk mendaftar kesalahan pasangan sendiri. Kita cenderung menudingnya tak bertanggung jawab pada anak.

Sangka kita, kita lebih bertanggung jawab dan lebih baik pada keluarga. Kita lupa bahwa pasangan hidup, sedikit banyak, adalah cermin diri sendiri. Jika nilai rapornya menurut kita merah, hampir pasti merah pula nilai rapor kita. Kita tak lebih baik dari pasangan kita. Mengapa kita tak memperbaiki diri sendiri saja? Biarkan ia memperbaiki dirinya sendiri pula. Mengapa kita terus menjadikan anak sebagai 'senjata' buat menghadapi pasangan sendiri?

Ada pula model berkeluarga yang sekarang sedang menjadi 'tren'. Biasanya, posisi suami di keluarga sangat dominan. Ketika ekonomi keluarga kian mapan, dan ikatan suami-istri tak lagi terbungai perasaan berdebar-debar, suami pun membidikkan mata dan hati pada perempuan lain. Berzina jelas haram. Solusinya adalah pernikahan. Istri dengan istri dipersandingkan. Tak penting bagaimana perasaan istri yang dulu seperti dijanjikan menjadi ratu keluarga sepanjang usia.

Tak penting pula bagaimana perasan anak-anak, meskipun mereka merasa malu atas langkah ayahnya. Laki-laki demikian umumnya punya kemampuan untuk membuat istri dan anak-anaknya terdiam. Apalagi bila menggunakan alasan syariah. Sebuah format syariah yang berbeda dengan yang ditunjukkan pasangan Muhammad SAW-Khadijah: Mereka hidup bersama tanpa poligami hingga maut memisahkannya.

Perjalanan 20 tahun pernikahan saya tidak semeriah kawan-kawan itu. Pesta pernikahan saya dulu sederhana saja. Saya merasa tidak sepantasnya bila awal perjalanan dipestakan megah. Saya dan istri lalu mengisi pernikahan dengan langkah-langkah sederhana. Misalnya, untuk sama sekali tidak pernah meninggikan suara karena hanya akan saling melukai.

Juga untuk tidak mengatakan "saya kan sudah berkurban ..." karena pernyataan itu sebenarnya lebih merupakan ekspresi menuntut dibanding sungguh-sungguh berkurban. Kami saling mendoakan, juga mendoakan secara spesifik anak-anak dengan menyebut nama satu persatu, setiap habis shalat. Juga menciptakan suasana agar setiap anggota melangkah hanya yang dapat membuat semua anggota keluarga lain dapat berjalan 'tegak'. Itu langkah kami.

Kini hari-hari kami banyak terisi dengan duduk bersama menikmati kesenyapan dengan tangan saling genggam, menunggu Subuh diazankan. Sungguh itu merupakan karunia luar biasa. Sebuah kenyamanan yang mencetuskan tanya istri saya: "Mengapa pada banyak orang begini saja tidak bisa? Apa sulitnya?" Saya tak tahu jawabnya. Saya hanya bisa berkata "Terima kasih ya."

Sumber Zaim Ukhrowi dalam www.republika.co.id

Dedication for Celebrating of 10 years wonderful life. Terima kasih yang setia menyalakan lilin dalam hangatnya hati. Terus ya, jadi manikam berkilau untuk hidup jadi indah. Semoga DIA berkenan menyatukan kita dalam ikatan kebahagiaan hakiki, di sini, sampai nanti. You are still queen in my heart.